ANATOMI
& FISIOLOGI
REPRODUKSI
LAKI - LAKI
SISTEM
REPRODUKSI
Makalah ini dibuat untuk memenuhi
tugas Sistem Reproduksi
Disusun oleh :
Fiqi Ramadhan
Khairul Kharis
Nurjannah
Tatag Hardiyanto
Aisyah Ulva Novema
S-1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyusun makalah ini
dengan judul “Anatomi dan Fisiologi Reproduksi pada Laki-laki ” tepat pada
waktunya.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini
adalah untuk memenuhi salah satu tugas Sistem Reproduksi
Dalam menyusun makalah ini kami menemui
beberapa kendala tapi berkat bimbingan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak
akhirnya kami data menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun
materil sehingga makalah ini dapat terselesaikan, terima kasih ini kelompok
sampaikan kepada :
1. Orang tua yang telah memberikan dukungan
baik moral dan materil
2. Ibu Kartini, M.Kep, Ns selaku coordinator
mata ajar Sistem Reproduksi
3. Ibu Lilis Komariah, S.Kp, Sp.Mat selaku
dosen Sistem reproduksi
4. Seluruh dosen FIKes UMT
5. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu
baik ide, moril dan materil
Kelompok menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangannya, oleh karena kami masih mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun bagi kelompok khususnya dan bagi perkembangan
umumnya. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
Tangerang,
06 Maret 2014
Penyusun
Kelompok 2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Sistem reproduksi pada laki-laki
berkaitan terutama dengan kelangsungan keberadaan spesies manusia. Oleh karena
itu, sistem ini berbeda dengan sistem organ lainnya dalam tubuh yang
berhubungan dengan homeostatis dan kemampuan bertahan individu. Proses
reproduksi pada laki-laki meliputi, maturasi seksual ( perangkat fisiologi untuk
reproduksi ), pembentukan gamet (spermatozoa), dan ejakulasi.
Reproduksi merupakan ciri utama makhluk
hidup yang bertujuan untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Reproduksi pada
manusia diawali oleh peleburan sel kelamin jantan (sperma) dengan sel kelamin
betina (ovum) yang menghasilkan zigot. Berdasarkan kepemilikan alat kelaminnya,
manusia dikelompokkan menjadi organisme yang
bersifat gonochoris (satu individu memiliki satu alat kelamin).
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa
sajakah organ reproduksi pria?
2. Melalui
apa saja sistem duktus pada reproduksi pria?
3. Apa
saja struktur aksesori pada reproduksi pria?
4. Bagaimana
aktifitas sexual pada pria?
1.3 Tujuan
Penulisan
1.3.1
Tujuan Khusus
-
Menjelaskan
tentang anatomi dan fisiologi reproduksi pada pria
1.3.2
Tujuan Umum
-
Menjelaskan apa sajakah organ reproduksi
pria.
-
Menjelaskan melalui apa saja sistem
duktus pada reproduksi pria.
-
Menjelaskan apa saja struktur aksesori
pada reproduksi pria.
-
Menjelaskan bagaimana proses maturasi
seksual pada pria.
1.4 Manfaat
-
Bagi
kelompok, makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendalami pemahaman tentang anatomi dan fisiologi
reproduksi pada pria
BAB II
PEMBAHASAN
Organ-organ
saluran reproduksi pria berasal dari jaringan embrional yang sama dengan
saluran reproduksi wanita. Perkembangan atau penekanan pertumbuhan sel-sel
tertentu ditentukan oleh pola kromosom XX atau XY pada saat fertilisasi.
Sebagai contoh, crypta urethralis dan duktus urethralis pada
wanita analog secara rudimenter (sisa-sisa) dengan prostat pria,
sedangkan glans clitoridis dan corpus clitoridis analog dengan penis
pada pria.
Seperti
sistem reproduksi wanita, pria mempunyai baik organ
reproduksi interna maupun eksterna.
Organ
eksterna :
-
Penis yang dilalui urethra
-
Scrotum yang berisi epididymis dan
sebagian vas deferens
Organ
interna :
-
Vas deferens selebihnya
-
Vesicula seminalis dan duktus seminalis
-
Duktus ejakulatorius
-
Prostata
-
Glandula bulbourethralis (Cowper)
2.1 Organ Eksterna
A.
Penis
Penis
terdiri dari 3 bagian akar, badan dan glans penis yang membesar yang
banyak mengandung ujung-ujung saraf sensorik. Organ ini berfungsi untuk tempat
keluar urine dan semen serta sebagai organ korpulasi. Kulit penis tipis dan
tidak berambut kecuali di dekat akar organ. Prepusium (kulup) adalah lipatan
sirkular kulit longgar yang merentang menutupi glans penis kecuali diangkat
melalui sirkumsisi. Korona adalah ujung proksimal glans penis. Badan penis
dibentuk dari tiga massa jaringan erektil silindris, dua korpus kavernosum dan
satu korpus spongiosum ventral di sekitar uretra.
Jaringan
erektil adalah jaring-jaring ruang darah irregular (venosa sinusoid)
yang diperdarahi oleh arteriol aferen dan kapiler, didrainase oleh venula dan
dikelilingi jaringan ikat rapat yang disebut tunika albugenia. Korpus kavernosum
dikelilingi oleh jaringan ikat rapat yang disebut tunika albugenia.
Penis
dilalui oleh sebagian dari urethra yang bekerja sebagai jalannya sperma maupun
untuk ekskresi urin. Suatu otot sphincter kecil mencegah masuknya sperma ke
dalam vesica urinaria dan mencegah keluarnya sperma dan urin secara
bersama-sama. Ereksi penis penting apabila hubungan seksual terjadi, dan hanya
terjadi dalam reaksinya terhadap rangsangan seksual. Otot-otot dasar pelvis
(bulbocavernosus dan ischiocavernosus) ikut berperan pada ereksi, tetapi
sebagian besar ereksi ini disebabkan oleh perubahan pada ketiga jaringan batang
spongiosa tadi. Pembuluh-pembuluh darah yang terdapat di dalam batang spongiosa
sangat mengalami dilatasi dan cepat terisi dan digelembungkan oleh darah apabila
terjadi jawaban terhadap rangsangan seksual yang menyebabkan saraf-saraf
autonom memacu dinding-dinding otot polosnya. Kalau cavernea terisi dengan
darah, maka penisakan menjadi keras, berdiri tegak, dan mengarah ke depan.
Anak
laki-laki sebaiknya diberi penjelasan sebelum mulainya pubertas bahwa ereksi
tadi mungkin terjadi sebagai akibat rangsangan seksual atau yang lain. Mereka
sebaiknya juga diberitahu apabila merekan mulai menghasilkan sperma, akan
terjadi ‘mimpi basah’ (emisio nocturnal) sebagai akibat dari mimpi erotik.
Mereka sebaiknya diyakinkan bahwa keadaan demikian adalah normal, karena
laki-laki remaja memperlihatkan hal yang sama mengenai fungsi reproduksi mereka
seperti halnya menstruasi pada anak perempuan.
B.
Scrotum
Scrotum
adalah bangunan seperti kantong yang tertutup oleh kulit dan merupakan tempat
bergantungnya penis. Scrotum dibagi oleh septum yang terdiri dari jaringan
fibrosa menjadi dua ruangan yang masing-masing berisi satu testis, satu
epididymis, dan bagian permulaan vas deferens. Scrotum tidak mengandung lemak
subkutan, tetapi mengandung jaringan otot yang dapat mengadakan retraksi
(penarikan ke atas) testes dalam usaha untuk melindungi testes terhadap trauma.
2.2 Organ Interna
A.
Testis
Testis
dibentuk di dalam abdomen fetus kira-kira 28 minggu kehidupan intrauteri, dan
turun ke dalam scrotum dan ditopang oleh funiculus spermaticus sebelum lahir.
Kegagalan testis untuk turun disebut cryporchismus, dan keadaan ini merupakan
penyebab sterilitas pada pria, karena produksi sperma memerlukan suhu yang
lebih rendah daripada suhu tubuh normal. Testes baru akan berfungsi penuh
sampai ada rangsangan oleh glandula pituitaria anterior pada saat pubertas.
Mengenai
ujudnya, testis merupakan bangunan yang berbentuk oval, berwarna putih,
kira-kira panjangnya 4 cm, lebarnya 2,5 cm dan tebalnya 3 cm. Masing-masing
testis beratnya antara 10-14 gram.
Testis
diselubungi ileh kapsula pelindung fibrosa yang disebut tunica albuginea,
dan ditutup lagi oleh membran serosa yang disebut tunica vaginalis, yang memungkinkan
masing-masing testis dapat bergerak secara bebas didalam scrotum.
Jaringan
glanduler (kelenjar) yang menyusun testis dibagi menjadi 200-300 lobi. Setiap
lobus berisi tubulus seminiferus yang berkelok-kelok yang bermuara ke
dalam vas deferens.
Tubulus
seminiferi mulai berkembang dari sel-sel syncitium pada saat anak laki-laki
berumur 7 tahun, dan perkembangan yang cepet terjadi sampai umur 16 tahun pada
saat testes mencapai ukuran dewasa. Dinding dalam tubulus dilapisi oleh lamina
basalis, di atanya terletak epitelium germinativum yang merupakan
asal pembentukan sperma setelah pubertas.
Pada
pemeriksaan mikroskopik kadang-kadang dapat dilihatspermatogonia sebelum
anak laki-laki berumur 11 tahun, tetapi produksi sperma yang mengalami
pemasakan sebagian biasanya baru terjadi setelah anak laki-laki berumur 12
tahun. Produksi sperma yang masak baru terjadi setelah anak laki-laki berumur
16 tahun.
Sel-sel sertilo berkembang
pada waktu yang bersamaan dengan epitelium germinativum dan sel sertilo ini
memberi nutrien (makan) spermatozoa selama perkembangannya didalam testes.
Sel-sel interstisial berkembang pada waktu yang sama, tetapi lebih lambat
dibandingkan dengan perkembangan tubulus seminiferi.
Sel-sel
interstisial menghasilkan testosteron dan baru berkembang dengan sempurna pada
waktu anak laki-laki berumur 18 tahun. Testis mempunyai dua fungsi yaitu :
-
Untuk memproduksi testosteron, yaitu
hormon yang mengendalikan sifat-sifat sekunder kejantanan
-
Untuk memproduksi spermatozoa
- Fungsi testis dapat terganggu oleh
adanya orchitis (radang testes) yang dapat terjadi pada parotitis
atau infeksi akut yang lain. Infeksi tadi dapat menyebabkan kegagalan testis
dalam memproduksi spermatozoa.
B.
Epididimis
Epididymis
merupakan pipa halus yang berkelok-kelok, masing-masing panjangnya 6 meter,
yang menghubungkan testis dengan vas deferens. Tubulus tadi mempunyai epitel
bercilia yang melapisi bagian dalam guna membantu spermatozoa bergerak menuju
vas deferens. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perjalanan sperma dari
testis ke luar tubuh melalui sistem saluran. Dalam rangka (proksimal distal)
saluran acessory adalah epididimis, duktus deferens, saluran ejakulasi, dan
uretra.
Bentuk
epidydimis (epi = samping, didym = testis) adalah sekitar 3,8 cm (1,5 inci).
Kepalanya, berisi ductules eferen, aspek unggul testis. Tubuh dan ekor berada
di daerah posterolateral testis. Sebagian dari epididimis terdiri dari saluran
melingkar dari epididimis dengan panjang sekitar 6 m (20 kaki). Beberapa sel
epitel pseudostraified dari saluran mukosa panjang, nonmotile microvili
(stereocilia). Luas permukaan besar stereocilia ini memungkinkan mereka untuk
menyerap cairan lebih dari testis dan untuk memberi nutrien ke banyak sperma
yang disimpan sementara di dalam lumen.
Yang
belum dewasa, sperma hampir nonmotile yang meninggalkan daerah testis bergerak
perlahan di sepanjang duktus epididimis melalui cairan yang mengandung sejumlah
protein antimikroba, termasuk beberapa β-defensin. Ketika mereka bergerak
sepanjang tostous nya (perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 hari),
kemampuan sperma untuk berenang mulai terlatih.
Sperma
ejakulasi dari epdidymis, bukan dari testis. Ketika seorang pria sedang
terangsang secara seksual dan ejakulasi, otot polos di saluran dari kontrak
epididimis, duktus deferens. Sperma dapat disimpan dalam epididimis selama
beberapa bulan, tetapi jika diadakan lagi, mereka akhirnya phagocytized oleh
sel epithalial dari epididimis. Ini bukan masalah bagi pria, karena sperma yang
dihasilkan terus menerus.
C.
Duktus
Deferen
Vas
deferens berbentuk tabung yang masing-masing panjangnya 45 cm, yang mengangkut
spermatozoa dari epididymis ke urethra pars prostatica. Tidak seperti
epididymis, vas deferens tidak mempunyai pelapis epitel bercilia karena sekresi
vesicula seminalis dan prostat merupakan medium untuk membantu pengangkutan
spermatozoa. Spermatozoa disimpan di dalam vas deferens, disini terjadi
pemasakan dan peningkatan motilitasnya.
Vas
deferens ini merupakan saluran yang dapat diikat dan dipotong pada saat
vasektomi. Sperma masih diproduksi dan memasuki vas deferens, tetapi sperma
tadi tidak dapat diejakulasikan sehingga mengalami degenerasi.
Duktus
deferens (duk'tus def'er-ens, "membawa pergi"), atau vas deferens
sekitar 45 cm (18 inci) panjang. Ini berjalan ke atas sebagai bagian dari korda
spermatika dari epididimis melalui kanalis inguinalis ke dalam rongga panggul.
Mudah teraba saat melewati anterior tulang kemaluan, maka loop medial atas
ureter dan menurun sepanjang dinding kandung kemih posterior. Terminus yang mengembang
dari ampula duktus deferens dan kemudian bergabung dengan duktus vesikula
seminalis (kelenjar) untuk membentuk saluran ejakulasi pendek. Setiap memasuki
saluran ejakulasi prostat, dan ada itu bermuara uretra.
Seperti
itu epididimis, mukosa duktus deferens adalah epithalium semu. Namun, lapisan
otot yang sangat tebal dan saluran terasa seperti kawat keras ketika terjepit
di antara jari. Pada saat ejakulasi, lapisan tebal otot polos di dindingnya
menciptakan gelombang peristaltik yang kuat dengan cepat memeras sperma depan
sepanjang saluran dan masuk ke uretra.
Bagian
dari ductus deferens terletak pada skrotum. Beberapa pria memilih untuk
mengambil resposibilty penuh untuk pengendalian kelahiran dengan memiliki
vasektomi (memotong vas) dalam operasi ini relatif kecil, dokter membuat
sayatan kecil dalam skrotum dan kemudian memotong dan ligates (ikatan off)
masing-masing duktus deferens. Sperma masih diproduksi, mereka tidak bisa lagi
mencapai bagian luar tubuh. Akhirnya, mereka memburuk dan phagocytized.
Vasektomi adalah sederhana dan memberikan kontrol kelahiran sangat efektif
(hampir 100%). Bagi mereka yang ingin membalikkan prosedur itu, tingkat
keberhasilan sekitar 50%.
D.
Duktus
Ejakulator
Ductus
ejakulatorius dibentuk dari persatuan vas deferens dengan ductus seminalis.
Ductus ejakulatorius panjangnya kira-kira 2,5 cm. Ductus ejakulatorius berjalan
melewati prostat dan bertemu dengan urethra. Dengan demikian ductus
ejakulatorius ini menghubungkan vas deferens dengan urethra.
E.
Uretra
Uretra
adalah bagian terminal dari sistem saluran laki-laki. Ini menyampaikan baik
urin dan air mani (pada waktu yang berbeda), sehingga berfungsi baik kemih dan
sistem reproduksi. Tiga daerah adalah
(1)
dalam uretra prostat, porsi dikelilingi oleh prostat,
(2)
membran (atau bagian antara dari) uretra di diafragma urogenital, dan
(3)
spons (penis) uretra, yang berjalan melalui penis dan membuka ke luar pada
lubang uretra eksternal. Spons uretra adalah sekitar 15 cm (6 inci) panjang dan
menyumbang for75% dari panjang uretra. Mukosa yang mengandung kelenjar uretra
tersebar yang mengeluarkan lendir ke dalam lumen sesaat sebelum ejakulasi
F.
Vesika
Seminalis
Vesikula
seminalis merupakan kantong-kantong kecil yang berbentuk tidak teratur,
panjangnya 5 cm dan terletak di antara dasar vesica urinaria dan rectum. Fungsi
vesicula seminalis adalah mensekresi cairan yang kental berwarna kekuningan
yang ditambahkan pada sperma untuk membentuk cairan seminal. Cairan tadi
mengandung glukosa dan bahan lain untuk memberi nutrien (makan) kepada sperma.
Masing-masing vesicula bermuara pada ductus seminalis yang bergabung
dengan vas deferens pada sisi yang sesuai untuk membentuk ductus
ejakulatorius.
Vesikula
seminalis atau kelenjar mani terletak pada permukaan posterior kandung kemih.
Masing-masing cukup besar, kelenjar berongga adalah tentang bentuk dan panjang
(5-7 cm) dari jari kelingking. Namun, karena vesikula seminalis yang bersaku,
melingkar, dan melipat kembali pada dirinya sendiri, panjang uncoiled yang
sebenarnya sekitar 15 cm. Kapsul fibrosa yang membungkus lapisan tebal otot
polos yang berkontraksi selama ejakulasi ke kelenjar kosong.
Disimpan
di dalam sarang lebah mukosa tentang kriptus dan jalan buntu adalah cairan
alkali kekuningan kental yang mengandung gula fruktosa, asam askorbat, enzim
koagulasi (vesiculase), dan prostaglandin, serta zat-zat lain yang meningkatkan
motilitas sperma atau kemampuan pemupukan. Sebagaimana dicatat, saluran
masing-masing vesikula seminalis bergabung bahwa dari duktus deferens pada
bentuk sisi yang sama dengan saluran ejakulasi. Sperma dan mani campuran cairan
pada saluran ejakulasi yang memasuki uretra prostat bersama selama ejakulasi.
Seminal rekening sekresi kelenjar untuk sama 70% dari volume air mani.
G.
Kalenjar
Prostat
Prostat
merupakan bangunan yang berbentuk kerucut yang panjangnya 4 cm, lebarnya 3 cm
dan tebalnya 2 cm dengan berat kira-kira 8 gram. Prostat mengelilingi bagian
atas urethra dan terletak dalam hubungan langsung dengan cervix vesicae
urinaria. Prostattersusun atas jaringan kelenjar dan serabut-serabut otot
involunter dan bereda di dalam kapsul fibrosa.
Prostat
adalah kelenjar berbentuk donat tunggal seukuran lubang persik. Ini
mengelilingi tentang uretra hanya kalah dengan kandung kemih. Tertutup oleh
kapsul jaringan conective tebal, terdiri dari 20-30 senyawa kelenjar
tubuloalveolar diembed dalam massa (stroma) dari otot polos dan jaringan ikat
padat.
Jaringan
otot prostat berfungsi untuk membantu dalam ejakulasi. Sekresi prostat
diproduksi secara terus-menerus dan diekskresikan ke dalam urin. Setiap hari
diproduksi kira-kira 1 ml, tetapi jumlahnya tergantung dari kadar testosteron,
karena hormon inilah yang merangsang sekresi tadi. Sekret prostat mempunyai pH
6,6 dan susunannya seperti plasma, tetapi mengandung bahan-bahan tambahan misalnya
kolesterol, asam sitrat dan suatu enzim hialuronidase. Sekret prostat
ditambahkan ke dalam sperma dan cairan seminal pada saat sperma dan cairan
seminal melewati urethra.
Sekresi
kelenjar prostat memasuki uretra prostat melalui beberapa saluran prostat
ketika kontrak otot polos saat ejakulasi. Hal ini memainkan peran dalam
mengaktifkan sperma dan bertanggung jawab atas sebanyak sepertiga dari volume
air mani. Itu ia seperti susu, cairan sedikit asam yang mengandung sitrat
(sumber nutrisi), beberapa enzim (fibrinolisin, hialuronidase, asam fosfatase),
dan antigen prostatespecific (PSA). Prostat memiliki reputasi sebagai
perusak kesehatan (mungkin tercermin dalam umum salah ucapan
"prostat").
Prostat
sering membesar pada pria setengah umur atau umur tua, dan pembesaran ini
karena tekanan lain yang disebabkan oleh apa saja pada sphincter urethra atau
urethra itu sendisi, akan menyebabkan retensi urin akut. Keadaan demikian dapat
disembuhkan dengan memasang kateter ke dalam vesica urinaria atau melakukan prostatektomi
pada pasien tertentu.
H.
Kalenjar
Bulbouretral
Merupakan
kelenjar kecil kira-kira sebesar kacang kapri, berwarna kuning, terletak tepat
di bawah prostat. Saluran kelenjar ini panjangnya kira-kira 3cm, dan bermuara
ke dalam urethra sebelum mencapai bagian penis. Sekresi dari glandula
bulbourethralis ini ditambahkan ke dalam cairan seminal. Glandula
bulbourethralis mengeluarkan sedikit cairan sebelum ejakulasi dengan tujuan
untuk melumasi penis sehingga mempermudah masuk ke dalam vagina.
Kalau
sekresi prostat sendiri mempunyai pH 6,6 maka pH cairan seminal secara
keseluruhan sana dengan darah yaitu 9,5.
I.
Cairan
Seminal
Cairan
seminal adalah cairan tempat berenangnya spermatozoa. Cairan ini memberi
nutrien (makan) kepada spermatozoa dan membantu motilitas spermatozoa. Setelah
berjalan dari vesicula seminalis dan ductus ejakulatorius ke urethra, disini
ditambahkan sekresi prostat dan sekresi dari glandula bulbourethralis. Akhirnya
cairan seminal ini diejakulasikan selama rangsangan seksual. Sekresi
prostat ini merupakan komponen paling besar dari cairan seminal.
2.3 Spermatogenesis
Spermatogenesis
adalah proses pembentukan atau pemasakan spermatozoa. Proses pembentukan
spermatozoa (sel kelamin jantan) berlangsung didalam testis yang terdapat didalam
skrotum (kantong pelir). Didalam testis terdapat banyak saluran seminiferus (tubulus seminiferus) yang berdinding jaringan epitelium dan jaringan ikat.
Pada jaringan epitelium terdapat sel induk spermatozoa (spermatogenium) dan sel
sertoli yang berfungsi memberi makanan spermatozoa. Pada jaringan ikat terdapat
sel leydig yang berfungsi dalam proses spermatogenesis membentuk testosteron.
Spermatogenesis
bermula dari sel spermatogonia yang terdapat pada dinding tubulus seminiferus.
Setiap spermatogenia yang mengandung 23 pasang kromosom, melakukan pembelahan
mitosis membentuk spermatosit primer yang juga mengandung 23 pasang kromosom.
Spermatosit primer melakukan pembelahan miosis pertama membentuk 2 (dua)
spermatosit sekunder yang haploid. Tiap spermatosit sekunder
membelah secara meosis ( meosis kedua ) menghasilkan 2 (dua)
spermatid yang haploid. Sperma yang telah masak akan menuju epididimis.
Keempat spermatid berkembang menjadi sperma masak yang bersifat
haploid. Setiap proses spermatogenesis memerlukan waktu 65-75 hari.
Pada
orang dewasa normal setiap 1 ml semen ( air mani ) mengadung lebih kurang 20
juta spermatozoa. Sperma yang matang mempunyai tiga bagian, yaitu bagian kepala
(head), bagian tengah (mid piece), dan bagian ekor ( tail ).
-
Bagian kepala ( head )
Bagian kepala
mengandung inti sel ( nukleus ) yang haploid dan bagian ujungnya mengandung
akrosom yang berisi enzim hialuronidase dan proteinase yang
berperan membantu menembus lapisan yang melindungi sel telur.
-
Bagian tengah ( mid piece )
Bagian tengah
mengandung mitokondria yang berperan dalam pembentukan energi yang digunakan
untuk pergerakan ekor sperma.
-
Bagian ekor ( tail ) : Bagian ekor
sebagai alat gerak sperma agar dapat sampai ke ovum
2.4 Aktifitas Sexual pada Pria
Rangsangan
akhir organ sensorik dan sensasi seksual menjalar melalui saraf pudendu.
Melalui pleksus sakralis dari medulla spinalis membantu rangsangan aksi seksual
yang berasal dari dalam. Akibat dari dorongan seksual akan mengisi organ
seksual dengan mukosa uretra. unsur psikis rangsangan seksual sesuai dengan
meningkatnya kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan seksual dengan
memikirkan atau berkhayal menyebabkan terjadinya aksi seksual sehingga
menimbulkan ejakulasi atau pengeluaran sperma pada saat bermimpi terutama usia
remaja. Aksi seksual pada medulla spinalis, fungsi otak tidak terlalu penting,
karena rangsangan genital menyebabkan ejakulasi yang dihasilkan dari mekanisme
refleks yang sudah terintegrasi pada medulla spinalis lumbalis. Mekanisme ini
dapat dirangsang secara psikis dan seksual yang nyata dan banyak kombinasi dari
keduanya.
2.5 Pengaturan Fungsi Sexual pada
pria
Proses
spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon seperti : testosterone, LH,
FSH, estrogen dan hormon pertumbuhan.
Pelepasan
hormon gonadotropin ( GnRH ) oleh hippotalamus merangsang kelenjar hipofisis
anterior untuk meyekresi LH, hormon, perangsang LH dan FSH. Hipotalamus
melepaskan GnRH yang diangkut ke kelenjar hipotalamus anterior dalam merangsang
pelepasan LH dan FSH darah porta. Perangsangan hormon ini ditentukan oleh
frekuensi dari siklus sekresi dan jumlah GnRH yang dilepaskan setiap siklus.
Sekresi LH mengikuti pelepasn GnRH dan sekresi FSH berubah lebih lambat sebagai
respon perubahan jangka panjang GnRH.
Hormon reprodusi
laki-laki
Kelenjar Endokrin dan Hormon-hormon
yang dihasilkan
|
Jaringan tujuan
|
Fungsi
|
a. Hipotalamus- Hormon Gonadotropin
|
Hipofisis anterior
|
Merangsang pengeluaran FSH dan LH dan hormon tumbuh ( Growth hormone )
|
b. Hipofisis anterior- FSH
- LH - Hormon
tumbuh
|
Testis
Testis Testis
|
Merangsang sel-sel sertoli pada tubulus
seminiferus pada testis untuk mngubah sel-sel spermatid menjadi sperma (
proses spermatogenesis ).Merangsang sel-sel leydig untuk menghasilkan
testosterone. Memacu agar memulai pembelahan spermatogenia.
|
c. Testis- Hormon Testosteron
|
Seluruh tubuh
|
Pada janin merangsang perkembangan organ seks
primer.Masa pubertas memengaruhi pertumbuhan alat
reproduksi dan cirri-ciri kelamin sekunder ( suara, kejantanan, pertumbuhan
rambut, dan kematangan seksual )Dewasa berperan dalam memelihara ciri-ciri kelamin
sekunder dan mendorong spermatogenesis.
|
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Organ-organ saluran
reproduksi pria berasal dari jaringan embrional yang sama dengan saluran
reproduksi wanita. Perkembangan atau penekanan pertumbuhan sel-sel tertentu
ditentukan oleh pola kromosom XX atau XY pada saat fertilisasi. Sebagai contoh,
crypta urethralis dan duktus urethralis pada wanita analog secara rudimenter
(sisa-sisa) dengan prostat pria, sedangkan glans clitoridis dan corpus
clitoridis analog dengan penis pada pria.
Seperti
sistem reproduksi wanita, pria mempunyai baik organ reproduksi interna maupun
eksterna.
Organ
eksterna :
-
Penis yang dilalui urethra
-
Scrotum yang berisi epididymis dan
sebagian vas deferens
Organ
interna :
-
Vas deferens selebihnya
-
Vesicula seminalis dan duktus seminalis
-
Duktus ejakulatorius
-
Prostata
-
Glandula bulbourethralis (Cowper)
B. Saran
Penulis
menyadari bahwa penulisan makalah ini jauh dari sempurna,untuk itu segala
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis
harapkan.Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya
dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Marieb, Elaine N dan Katja Ttoen. 2011. Anatomy
and Physiologi. San Fransisco: Pearson
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan
Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Verrals,
sylvia. 1997. Anatomi Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta: EGC