Itulah
reaksi yang diungkapkan banyak pihak bila diselingkuhi pasangannya terlampau sakitnya
hati, membuat kesalahan yang satu ini sulit untuk dimaafkan. Apalagi bila
mengingat bagaimana mereka membangun cinta pada pasanganya.
Namun anehnya, selingkuh tak bisa
lepas dari sebuah hubungan cinta ibarat hitam dan putih, selingkuh juga
bertalian berkelindan dengan cinta. Tak heran bila, selingkuh menjadi fenomena
yang terasa biasa dalam hubungan cinta. Catatan Dadang Hawari (2002) 90%
perselingkuhan dilakukan kaum laki-laki,sisanya, 10% dilakukan oleh kaum
perempuan.
Banyak hubungan cinta yang telah
disatukan dalam sebuah hubungan harus kandas gara-gara selingkuh.
Padahal pasangan tersebut cukup harmonis. Tapi entahlah sepertinya virus
selingkuh justru semakin tertantang untuk menggerogoti ikatan suci itu. Mulai
dari dalih sulitnya ketidakmampuan menenggang beda dalam adaptasi karakter
sampai mencegah arus kuat dari peluang selingkuh. Ugh, ironi bukan ? padahal
jelas, hubungan itu merupakan proses pembelajaran karakter, jadi, mengapa tak
mengikuti proses tersebut ? mengenai peluang, bukankah kita punya hak pilih untuk memilih mana yang
‘layak’ dan ‘tidak layak’ ?
Apapun yang menjadi dalih selingkuh, tetap
saja di mata pasangan, itu sebuah kesalahan yang sulit dimaafkan. Mencintai
orang lain dalam sebuah cinta yang terlarang. Sebab dalam selingkuh terdapat
banyak kebohongan. Sementara cinta tak mengenal kebohongan. Cinta dibesarkan
oleh kepercayaan yang fondasinya adalah kejujuran. Maka, sangat tak mungkin cinta
dapat menerima kebohongan. Wajar bila selanjutnya, reaksi pecinta akan sangat
marah bila diselingkuhi.
Ditengah rasa marahnya, biasanya
para pecinta akan mencari-cari penyebab orang yang dicintainya berselingkuh.
Umumnya, menurut psikolog Monty P. Setiadarma dalam bukunya Menyingkapi
Perselingkuhan, ada tiga alasan yang menjadi penyebab orang
berselingkuh. Pertama, Alasan
psikofisik. Kedua, Alasan social. Ketiga, Alasan psikologis.
Alasan psikofisik didorong
oleh keterpikatan fisik dan kebutuhan biologis. Adapaun alasan social lebih pada perbedaan
kelas social, agama. Pengaruh teman juga ikut andil dalam alas an ini.
Pergaulan yang ‘ramah’ dengan perselingkuhan akan mendorong komunitas di
dalamnya untuk berselingkuh. Sementara untuk alas an psikologis terkait dengan
adanya desakan kebutuhan tertentu yang tak terpenuhi dari pasangannya.
Psikolog Yayasan kita dan buah hati,
Pambadjeng Budho Mastikosari atau biasa disapa Ika Membenarkan
alasan-alasan di atas. Namun menurutnya alasan psikologis lbih mendominasi
ketimbang alasan lainnya. Hilangnya rasa perhatian, penghormatan dan
penghargaan dari sebuah hubungan, dapat mendorong salah satu pasangan mencari
gantinya dari orang lain. Kondisi itu diperunyam dengan pengalaman hidup
seseorang yang buruk (Terkait erat dengan prinsip hidup), pendirian yang labil
dan spiritualitas diri yang lemah.
Pandangan Ika yang terakhir amat
disepakati Direktur Sekolah Pengembangan Kepribadian Moslem Glows, Kingkin
Annida, “ Tema sederhana penyebab selingkuh adalah masalah iman. Kalau
imannya tidak digantungkan pada Allah tapi pada fenomena kehidupan yang
materialis- hedonism aka selingkuh menjadi seseuatu yang exited, yang menarik
untuk dicoba tentu berbeda kalau imannya digantungkan Allah, selingkuh akan
menjadi seseuatu yang dahsyat ancamannya hingga orang akan berpikir berulang
kali untuk melakukannya”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar