Blogger Widgets


Senin, 06 Februari 2012

Tiada Maaf Bagimu !


Itulah reaksi yang diungkapkan banyak pihak bila diselingkuhi pasangannya terlampau sakitnya hati, membuat kesalahan yang satu ini sulit untuk dimaafkan. Apalagi bila mengingat bagaimana mereka membangun cinta pada pasanganya.
      Namun anehnya, selingkuh tak bisa lepas dari sebuah hubungan cinta ibarat hitam dan putih, selingkuh juga bertalian berkelindan dengan cinta. Tak heran bila, selingkuh menjadi fenomena yang terasa biasa dalam hubungan cinta. Catatan Dadang Hawari (2002) 90% perselingkuhan dilakukan kaum laki-laki,sisanya, 10% dilakukan oleh kaum perempuan.
            
        Banyak hubungan cinta yang telah disatukan dalam sebuah hubungan harus kandas gara-gara selingkuh. Padahal pasangan tersebut cukup harmonis. Tapi entahlah sepertinya virus selingkuh justru semakin tertantang untuk menggerogoti ikatan suci itu. Mulai dari dalih sulitnya ketidakmampuan menenggang beda dalam adaptasi karakter sampai mencegah arus kuat dari peluang selingkuh. Ugh, ironi bukan ? padahal jelas, hubungan itu merupakan proses pembelajaran karakter, jadi, mengapa tak mengikuti proses tersebut ? mengenai peluang, bukankah kita  punya hak pilih untuk memilih mana yang ‘layak’ dan ‘tidak layak’ ?
              
      Apapun yang menjadi dalih selingkuh, tetap saja di mata pasangan, itu sebuah kesalahan yang sulit dimaafkan. Mencintai orang lain dalam sebuah cinta yang terlarang. Sebab dalam selingkuh terdapat banyak kebohongan. Sementara cinta tak mengenal kebohongan. Cinta dibesarkan oleh kepercayaan yang fondasinya adalah kejujuran. Maka, sangat tak mungkin cinta dapat menerima kebohongan. Wajar bila selanjutnya, reaksi pecinta akan sangat marah bila diselingkuhi.
             
      Ditengah rasa marahnya, biasanya para pecinta akan mencari-cari penyebab orang yang dicintainya berselingkuh. Umumnya, menurut psikolog Monty P. Setiadarma dalam bukunya Menyingkapi Perselingkuhan, ada tiga alasan yang menjadi penyebab orang berselingkuh. Pertama,  Alasan psikofisik. Kedua, Alasan social. Ketiga, Alasan psikologis.
             
      Alasan psikofisik didorong oleh keterpikatan fisik dan kebutuhan biologis. Adapaun alasan social lebih pada perbedaan kelas social, agama. Pengaruh teman juga ikut andil dalam alas an ini. Pergaulan yang ‘ramah’ dengan perselingkuhan akan mendorong komunitas di dalamnya untuk berselingkuh. Sementara untuk alas an psikologis terkait dengan adanya desakan kebutuhan tertentu yang tak terpenuhi dari pasangannya.
             
       Psikolog Yayasan kita dan buah hati, Pambadjeng Budho Mastikosari atau biasa disapa Ika Membenarkan alasan-alasan di atas. Namun menurutnya alasan psikologis lbih mendominasi ketimbang alasan lainnya. Hilangnya rasa perhatian, penghormatan dan penghargaan dari sebuah hubungan, dapat mendorong salah satu pasangan mencari gantinya dari orang lain. Kondisi itu diperunyam dengan pengalaman hidup seseorang yang buruk (Terkait erat dengan prinsip hidup), pendirian yang labil dan spiritualitas diri yang lemah.
             
      Pandangan Ika yang terakhir amat disepakati Direktur Sekolah Pengembangan Kepribadian Moslem Glows, Kingkin Annida, “ Tema sederhana penyebab selingkuh adalah masalah iman. Kalau imannya tidak digantungkan pada Allah tapi pada fenomena kehidupan yang materialis- hedonism aka selingkuh menjadi seseuatu yang exited, yang menarik untuk dicoba tentu berbeda kalau imannya digantungkan Allah, selingkuh akan menjadi seseuatu yang dahsyat ancamannya hingga orang akan berpikir berulang kali untuk melakukannya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Facebook

jangan lupa kasih makan ya !