Blogger Widgets


Selasa, 18 Maret 2014

Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Pria

ANATOMI & FISIOLOGI
REPRODUKSI LAKI - LAKI
SISTEM REPRODUKSI



Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Sistem Reproduksi
Disusun oleh :
Fiqi Ramadhan
Khairul Kharis
Nurjannah
Tatag Hardiyanto
Aisyah Ulva Novema

S-1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
1435 H / 2014 M


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan  kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul “Anatomi dan Fisiologi Reproduksi pada Laki-laki ” tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Sistem Reproduksi
Dalam menyusun makalah ini kami menemui beberapa kendala tapi berkat bimbingan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya kami data menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil sehingga makalah ini dapat terselesaikan, terima kasih ini kelompok sampaikan kepada :
1.      Orang tua yang telah memberikan dukungan baik moral dan materil
2.      Ibu Kartini, M.Kep, Ns selaku coordinator mata ajar Sistem Reproduksi
3.      Ibu Lilis Komariah, S.Kp, Sp.Mat selaku dosen Sistem reproduksi
4.      Seluruh dosen FIKes UMT
5.      Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu baik ide, moril dan materil
Kelompok menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya, oleh karena kami masih mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun bagi kelompok khususnya dan bagi perkembangan umumnya. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca

                                                                                    Tangerang, 06 Maret 2014
                       

                                                                                           Penyusun  Kelompok 2



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sistem reproduksi pada laki-laki berkaitan terutama dengan kelangsungan keberadaan spesies manusia. Oleh karena itu, sistem ini berbeda dengan sistem organ lainnya dalam tubuh yang berhubungan dengan homeostatis dan kemampuan bertahan individu. Proses reproduksi pada laki-laki meliputi, maturasi seksual ( perangkat fisiologi untuk reproduksi ), pembentukan gamet (spermatozoa), dan ejakulasi.
Reproduksi merupakan ciri utama makhluk hidup yang bertujuan untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Reproduksi pada manusia diawali oleh peleburan sel kelamin jantan (sperma) dengan sel kelamin betina (ovum) yang menghasilkan zigot. Berdasarkan kepemilikan alat kelaminnya, manusia dikelompokkan menjadi organisme yang bersifat gonochoris (satu individu memiliki satu alat kelamin).

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa sajakah organ reproduksi pria?
2.      Melalui apa saja sistem duktus pada reproduksi pria?
3.      Apa saja struktur aksesori pada reproduksi pria?
4.      Bagaimana aktifitas sexual pada pria?

1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan Khusus
-          Menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi reproduksi pada pria
1.3.2        Tujuan Umum
-          Menjelaskan apa sajakah organ reproduksi pria.
-          Menjelaskan melalui apa saja sistem duktus pada reproduksi pria.
-          Menjelaskan apa saja struktur aksesori pada reproduksi pria.
-          Menjelaskan bagaimana proses maturasi seksual pada pria.
1.4  Manfaat
-          Bagi kelompok, makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendalami   pemahaman tentang anatomi dan fisiologi reproduksi pada pria

BAB II
PEMBAHASAN

Organ-organ saluran reproduksi pria berasal dari jaringan embrional yang sama dengan saluran reproduksi wanita. Perkembangan atau penekanan pertumbuhan sel-sel tertentu ditentukan oleh pola kromosom XX atau XY pada saat fertilisasi. Sebagai contoh, crypta urethralis dan duktus urethralis pada wanita analog secara rudimenter (sisa-sisa) dengan prostat pria, sedangkan glans clitoridis dan corpus clitoridis analog dengan penis pada pria.
Seperti sistem reproduksi wanita, pria mempunyai baik organ reproduksi interna maupun eksterna.
Organ eksterna :
-          Penis yang dilalui urethra
-          Scrotum yang berisi epididymis dan sebagian vas deferens
Organ interna :
-          Vas deferens selebihnya
-          Vesicula seminalis dan duktus seminalis
-          Duktus ejakulatorius
-          Prostata
-          Glandula bulbourethralis (Cowper)
2.1 Organ Eksterna
              A.    Penis
Penis terdiri dari 3 bagian  akar, badan dan glans penis yang membesar yang banyak mengandung ujung-ujung saraf sensorik. Organ ini berfungsi untuk tempat keluar urine dan semen serta sebagai organ korpulasi. Kulit penis tipis dan tidak berambut kecuali di dekat akar organ. Prepusium (kulup) adalah lipatan sirkular kulit longgar yang merentang menutupi glans penis kecuali diangkat melalui sirkumsisi. Korona adalah ujung proksimal glans penis. Badan penis dibentuk dari tiga massa jaringan erektil silindris, dua korpus kavernosum dan satu korpus spongiosum ventral di sekitar uretra.
Jaringan erektil adalah jaring-jaring ruang darah irregular (venosa sinusoid) yang diperdarahi oleh arteriol aferen dan kapiler, didrainase oleh venula dan dikelilingi jaringan ikat rapat yang disebut tunika albugenia. Korpus kavernosum dikelilingi oleh jaringan ikat rapat yang disebut tunika albugenia.
Penis dilalui oleh sebagian dari urethra yang bekerja sebagai jalannya sperma maupun untuk ekskresi urin. Suatu otot sphincter kecil mencegah masuknya sperma ke dalam vesica urinaria dan mencegah keluarnya sperma dan urin secara bersama-sama. Ereksi penis penting apabila hubungan seksual terjadi, dan hanya terjadi dalam reaksinya terhadap rangsangan seksual. Otot-otot dasar pelvis (bulbocavernosus dan ischiocavernosus) ikut berperan pada ereksi, tetapi sebagian besar ereksi ini disebabkan oleh perubahan pada ketiga jaringan batang spongiosa tadi. Pembuluh-pembuluh darah yang terdapat di dalam batang spongiosa sangat mengalami dilatasi dan cepat terisi dan digelembungkan oleh darah apabila terjadi jawaban terhadap rangsangan seksual yang menyebabkan saraf-saraf autonom memacu dinding-dinding otot polosnya. Kalau cavernea terisi dengan darah, maka penisakan menjadi keras, berdiri tegak, dan mengarah ke depan.
Anak laki-laki sebaiknya diberi penjelasan sebelum mulainya pubertas bahwa ereksi tadi mungkin terjadi sebagai akibat rangsangan seksual atau yang lain. Mereka sebaiknya juga diberitahu apabila merekan mulai menghasilkan sperma, akan terjadi ‘mimpi basah’ (emisio nocturnal) sebagai akibat dari mimpi erotik. Mereka sebaiknya diyakinkan bahwa keadaan demikian adalah normal, karena laki-laki remaja memperlihatkan hal yang sama mengenai fungsi reproduksi mereka seperti halnya menstruasi pada anak perempuan.
        B.     Scrotum
    Scrotum adalah bangunan seperti kantong yang tertutup oleh kulit dan merupakan tempat bergantungnya   penis. Scrotum dibagi oleh septum yang terdiri dari jaringan fibrosa menjadi dua ruangan yang masing-masing berisi satu testis, satu epididymis, dan bagian permulaan vas deferens. Scrotum tidak mengandung lemak subkutan, tetapi mengandung jaringan otot yang dapat mengadakan retraksi (penarikan ke atas) testes dalam usaha untuk melindungi testes terhadap trauma.
2.2 Organ Interna

      A.    Testis
Testis dibentuk di dalam abdomen fetus kira-kira 28 minggu kehidupan intrauteri, dan turun ke dalam scrotum dan ditopang oleh funiculus spermaticus sebelum lahir. Kegagalan testis untuk turun disebut cryporchismus, dan keadaan ini merupakan penyebab sterilitas pada pria, karena produksi sperma memerlukan suhu yang lebih rendah daripada suhu tubuh normal. Testes baru akan berfungsi penuh sampai ada rangsangan oleh glandula pituitaria anterior pada saat pubertas.
Mengenai ujudnya, testis merupakan bangunan yang berbentuk oval, berwarna putih, kira-kira panjangnya 4 cm, lebarnya 2,5 cm dan tebalnya 3 cm. Masing-masing testis beratnya antara 10-14 gram.
Testis diselubungi ileh kapsula pelindung fibrosa yang disebut tunica albuginea, dan ditutup lagi oleh membran serosa yang disebut tunica vaginalis, yang memungkinkan masing-masing testis dapat bergerak secara bebas didalam scrotum.
Jaringan glanduler (kelenjar) yang menyusun testis dibagi menjadi 200-300 lobi. Setiap lobus berisi tubulus seminiferus yang berkelok-kelok yang bermuara ke dalam vas deferens.
Tubulus seminiferi mulai berkembang dari sel-sel syncitium pada saat anak laki-laki berumur 7 tahun, dan perkembangan yang cepet terjadi sampai umur 16 tahun pada saat testes mencapai ukuran dewasa. Dinding dalam tubulus dilapisi oleh lamina basalis, di atanya terletak epitelium germinativum yang merupakan asal pembentukan sperma setelah pubertas.
Pada pemeriksaan mikroskopik kadang-kadang dapat dilihatspermatogonia sebelum anak laki-laki berumur 11 tahun, tetapi produksi sperma yang mengalami pemasakan sebagian biasanya baru terjadi setelah anak laki-laki berumur 12 tahun. Produksi sperma yang masak baru terjadi setelah anak laki-laki berumur 16 tahun.
Sel-sel sertilo berkembang pada waktu yang bersamaan dengan epitelium germinativum dan sel sertilo ini memberi nutrien (makan) spermatozoa selama perkembangannya didalam testes. Sel-sel interstisial berkembang pada waktu yang sama, tetapi lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan tubulus seminiferi.
Sel-sel interstisial menghasilkan testosteron dan baru berkembang dengan sempurna pada waktu anak laki-laki berumur 18 tahun. Testis mempunyai dua fungsi yaitu :
-          Untuk memproduksi testosteron, yaitu hormon yang mengendalikan sifat-sifat sekunder              kejantanan
-          Untuk memproduksi spermatozoa
-     Fungsi testis dapat terganggu oleh adanya orchitis (radang testes) yang dapat terjadi pada parotitis atau infeksi akut yang lain. Infeksi tadi dapat menyebabkan kegagalan testis dalam memproduksi spermatozoa. 
                B.     Epididimis
Epididymis merupakan pipa halus yang berkelok-kelok, masing-masing panjangnya 6 meter, yang menghubungkan testis dengan vas deferens. Tubulus tadi mempunyai epitel bercilia yang melapisi bagian dalam guna membantu spermatozoa bergerak menuju vas deferens. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perjalanan sperma dari testis ke luar tubuh melalui sistem saluran. Dalam rangka (proksimal distal) saluran acessory adalah epididimis, duktus deferens, saluran ejakulasi, dan uretra.
Bentuk epidydimis (epi = samping, didym = testis) adalah sekitar 3,8 cm (1,5 inci). Kepalanya, berisi ductules eferen, aspek unggul testis. Tubuh dan ekor berada di daerah posterolateral testis. Sebagian dari epididimis terdiri dari saluran melingkar dari epididimis dengan panjang sekitar 6 m (20 kaki). Beberapa sel epitel pseudostraified dari saluran mukosa panjang, nonmotile microvili (stereocilia). Luas permukaan besar stereocilia ini memungkinkan mereka untuk menyerap cairan lebih dari testis dan untuk memberi nutrien ke banyak sperma yang disimpan sementara di dalam lumen.
Yang belum dewasa, sperma hampir nonmotile yang meninggalkan daerah testis bergerak perlahan di sepanjang duktus epididimis melalui cairan yang mengandung sejumlah protein antimikroba, termasuk beberapa β-defensin. Ketika mereka bergerak sepanjang tostous nya (perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 hari), kemampuan sperma untuk berenang mulai terlatih.
Sperma ejakulasi dari epdidymis, bukan dari testis. Ketika seorang pria sedang terangsang secara seksual dan ejakulasi, otot polos di saluran dari kontrak epididimis, duktus deferens. Sperma dapat disimpan dalam epididimis selama beberapa bulan, tetapi jika diadakan lagi, mereka akhirnya phagocytized oleh sel epithalial dari epididimis. Ini bukan masalah bagi pria, karena sperma yang dihasilkan terus menerus.
              C.    Duktus Deferen
Vas deferens berbentuk tabung yang masing-masing panjangnya 45 cm, yang mengangkut spermatozoa dari epididymis ke urethra pars prostatica. Tidak seperti epididymis, vas deferens tidak mempunyai pelapis epitel bercilia karena sekresi vesicula seminalis dan prostat merupakan medium untuk membantu pengangkutan spermatozoa. Spermatozoa disimpan di dalam vas deferens, disini terjadi pemasakan dan peningkatan motilitasnya.
Vas deferens ini merupakan saluran yang dapat diikat dan dipotong pada saat vasektomi. Sperma masih diproduksi dan memasuki vas deferens, tetapi sperma tadi tidak dapat diejakulasikan sehingga mengalami degenerasi.
Duktus deferens (duk'tus def'er-ens, "membawa pergi"), atau vas deferens sekitar 45 cm (18 inci) panjang. Ini berjalan ke atas sebagai bagian dari korda spermatika dari epididimis melalui kanalis inguinalis ke dalam rongga panggul. Mudah teraba saat melewati anterior tulang kemaluan, maka loop medial atas ureter dan menurun sepanjang dinding kandung kemih posterior. Terminus yang mengembang dari ampula duktus deferens dan kemudian bergabung dengan duktus vesikula seminalis (kelenjar) untuk membentuk saluran ejakulasi pendek. Setiap memasuki saluran ejakulasi prostat, dan ada itu bermuara uretra.
Seperti itu epididimis, mukosa duktus deferens adalah epithalium semu. Namun, lapisan otot yang sangat tebal dan saluran terasa seperti kawat keras ketika terjepit di antara jari. Pada saat ejakulasi, lapisan tebal otot polos di dindingnya menciptakan gelombang peristaltik yang kuat dengan cepat memeras sperma depan sepanjang saluran dan masuk ke uretra.
Bagian dari ductus deferens terletak pada skrotum. Beberapa pria memilih untuk mengambil resposibilty penuh untuk pengendalian kelahiran dengan memiliki vasektomi (memotong vas) dalam operasi ini relatif kecil, dokter membuat sayatan kecil dalam skrotum dan kemudian memotong dan ligates (ikatan off) masing-masing duktus deferens. Sperma masih diproduksi, mereka tidak bisa lagi mencapai bagian luar tubuh. Akhirnya, mereka memburuk dan phagocytized. Vasektomi adalah sederhana dan memberikan kontrol kelahiran sangat efektif (hampir 100%). Bagi mereka yang ingin membalikkan prosedur itu, tingkat keberhasilan sekitar 50%.
    D.    Duktus Ejakulator
Ductus ejakulatorius dibentuk dari persatuan vas deferens dengan ductus seminalis. Ductus ejakulatorius panjangnya kira-kira 2,5 cm. Ductus ejakulatorius berjalan melewati prostat dan bertemu dengan urethra. Dengan demikian ductus ejakulatorius ini menghubungkan vas deferens dengan urethra.
     E.     Uretra
Uretra adalah bagian terminal dari sistem saluran laki-laki. Ini menyampaikan baik urin dan air mani (pada waktu yang berbeda), sehingga berfungsi baik kemih dan sistem reproduksi. Tiga daerah adalah
(1) dalam uretra prostat, porsi dikelilingi oleh prostat,
(2) membran (atau bagian antara dari) uretra di diafragma urogenital, dan
(3) spons (penis) uretra, yang berjalan melalui penis dan membuka ke luar pada lubang uretra eksternal. Spons uretra adalah sekitar 15 cm (6 inci) panjang dan menyumbang for75% dari panjang uretra. Mukosa yang mengandung kelenjar uretra tersebar yang mengeluarkan lendir ke dalam lumen sesaat sebelum ejakulasi
   F.     Vesika Seminalis
Vesikula seminalis merupakan kantong-kantong kecil yang berbentuk tidak teratur, panjangnya 5 cm dan terletak di antara dasar vesica urinaria dan rectum. Fungsi vesicula seminalis adalah mensekresi cairan yang kental berwarna kekuningan yang ditambahkan pada sperma untuk membentuk cairan seminal. Cairan tadi mengandung glukosa dan bahan lain untuk memberi nutrien (makan) kepada sperma. Masing-masing vesicula bermuara pada ductus seminalis yang bergabung dengan vas deferens pada sisi yang sesuai untuk membentuk ductus ejakulatorius.
Vesikula seminalis atau kelenjar mani terletak pada permukaan posterior kandung kemih. Masing-masing cukup besar, kelenjar berongga adalah tentang bentuk dan panjang (5-7 cm) dari jari kelingking. Namun, karena vesikula seminalis yang bersaku, melingkar, dan melipat kembali pada dirinya sendiri, panjang uncoiled yang sebenarnya sekitar 15 cm. Kapsul fibrosa yang membungkus lapisan tebal otot polos yang berkontraksi selama ejakulasi ke kelenjar kosong.
Disimpan di dalam sarang lebah mukosa tentang kriptus dan jalan buntu adalah cairan alkali kekuningan kental yang mengandung gula fruktosa, asam askorbat, enzim koagulasi (vesiculase), dan prostaglandin, serta zat-zat lain yang meningkatkan motilitas sperma atau kemampuan pemupukan. Sebagaimana dicatat, saluran masing-masing vesikula seminalis bergabung bahwa dari duktus deferens pada bentuk sisi yang sama dengan saluran ejakulasi. Sperma dan mani campuran cairan pada saluran ejakulasi yang memasuki uretra prostat bersama selama ejakulasi. Seminal rekening sekresi kelenjar untuk sama 70% dari volume air mani.
     G.    Kalenjar Prostat
Prostat merupakan bangunan yang berbentuk kerucut yang panjangnya 4 cm, lebarnya 3 cm dan tebalnya 2 cm dengan berat kira-kira 8 gram. Prostat mengelilingi bagian atas urethra dan terletak dalam hubungan langsung dengan cervix vesicae urinaria. Prostattersusun atas jaringan kelenjar dan serabut-serabut otot involunter dan bereda di dalam kapsul fibrosa.
Prostat adalah kelenjar berbentuk donat tunggal seukuran lubang persik. Ini mengelilingi tentang uretra hanya kalah dengan kandung kemih. Tertutup oleh kapsul jaringan conective tebal, terdiri dari 20-30 senyawa kelenjar tubuloalveolar diembed dalam massa (stroma) dari otot polos dan jaringan ikat padat.
Jaringan otot prostat berfungsi untuk membantu dalam ejakulasi. Sekresi prostat diproduksi secara terus-menerus dan diekskresikan ke dalam urin. Setiap hari diproduksi kira-kira 1 ml, tetapi jumlahnya tergantung dari kadar testosteron, karena hormon inilah yang merangsang sekresi tadi. Sekret prostat mempunyai pH 6,6 dan susunannya seperti plasma, tetapi mengandung bahan-bahan tambahan misalnya kolesterol, asam sitrat dan suatu enzim hialuronidase. Sekret prostat ditambahkan ke dalam sperma dan cairan seminal pada saat sperma dan cairan seminal melewati urethra.
Sekresi kelenjar prostat memasuki uretra prostat melalui beberapa saluran prostat ketika kontrak otot polos saat ejakulasi. Hal ini memainkan peran dalam mengaktifkan sperma dan bertanggung jawab atas sebanyak sepertiga dari volume air mani. Itu ia seperti susu, cairan sedikit asam yang mengandung sitrat (sumber nutrisi), beberapa enzim (fibrinolisin, hialuronidase, asam fosfatase), dan antigen prostatespecific (PSA). Prostat memiliki reputasi sebagai perusak kesehatan (mungkin tercermin dalam umum salah ucapan "prostat").
Prostat sering membesar pada pria setengah umur atau umur tua, dan pembesaran ini karena tekanan lain yang disebabkan oleh apa saja pada sphincter urethra atau urethra itu sendisi, akan menyebabkan retensi urin akut. Keadaan demikian dapat disembuhkan dengan memasang kateter ke dalam vesica urinaria atau melakukan prostatektomi pada pasien tertentu. 
    H.    Kalenjar Bulbouretral
Merupakan kelenjar kecil kira-kira sebesar kacang kapri, berwarna kuning, terletak tepat di bawah prostat. Saluran kelenjar ini panjangnya kira-kira 3cm, dan bermuara ke dalam urethra sebelum mencapai bagian penis. Sekresi dari glandula bulbourethralis ini ditambahkan ke dalam cairan seminal. Glandula bulbourethralis mengeluarkan sedikit cairan sebelum ejakulasi dengan tujuan untuk melumasi penis sehingga mempermudah masuk ke dalam vagina.
Kalau sekresi prostat sendiri mempunyai pH 6,6 maka pH cairan seminal secara keseluruhan sana dengan darah yaitu 9,5. 
    I.       Cairan Seminal
Cairan seminal adalah cairan tempat berenangnya spermatozoa. Cairan ini memberi nutrien (makan) kepada spermatozoa dan membantu motilitas spermatozoa. Setelah berjalan dari vesicula seminalis dan ductus ejakulatorius ke urethra, disini ditambahkan sekresi prostat dan sekresi dari glandula bulbourethralis. Akhirnya cairan seminal ini diejakulasikan selama rangsangan seksual. Sekresi prostat  ini merupakan komponen paling besar dari cairan seminal.
2.3 Spermatogenesis

Spermatogenesis adalah proses pembentukan atau pemasakan spermatozoa. Proses pembentukan spermatozoa (sel kelamin jantan) berlangsung didalam testis yang terdapat didalam skrotum (kantong pelir). Didalam testis terdapat banyak saluran seminiferus (tubulus seminiferus) yang berdinding jaringan epitelium dan jaringan ikat. Pada jaringan epitelium terdapat sel induk spermatozoa (spermatogenium) dan sel sertoli yang berfungsi memberi makanan spermatozoa. Pada jaringan ikat terdapat sel leydig yang berfungsi dalam proses spermatogenesis membentuk testosteron.
     Spermatogenesis bermula dari sel spermatogonia yang terdapat pada dinding tubulus seminiferus. Setiap spermatogenia yang mengandung 23 pasang kromosom, melakukan pembelahan mitosis membentuk spermatosit primer yang juga mengandung 23 pasang kromosom. Spermatosit primer melakukan pembelahan miosis pertama membentuk 2 (dua) spermatosit sekunder yang haploid. Tiap spermatosit sekunder membelah  secara meosis ( meosis kedua ) menghasilkan 2 (dua) spermatid yang haploid. Sperma yang telah masak akan menuju epididimis. Keempat  spermatid berkembang menjadi sperma masak yang bersifat haploid. Setiap proses spermatogenesis memerlukan waktu 65-75 hari.
Pada orang dewasa normal setiap 1 ml semen ( air mani ) mengadung lebih kurang 20 juta spermatozoa. Sperma yang matang mempunyai tiga bagian, yaitu bagian kepala (head), bagian tengah (mid piece), dan bagian ekor ( tail ).
-          Bagian kepala ( head )
Bagian kepala mengandung inti sel ( nukleus ) yang haploid dan bagian ujungnya mengandung akrosom yang berisi enzim hialuronidase dan proteinase yang berperan membantu menembus lapisan yang melindungi sel telur.
-          Bagian tengah ( mid piece )
Bagian tengah mengandung mitokondria yang berperan dalam pembentukan energi yang digunakan untuk pergerakan ekor sperma.
-          Bagian ekor ( tail ) : Bagian ekor sebagai alat gerak sperma agar dapat sampai ke ovum
2.4 Aktifitas Sexual pada Pria
Rangsangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menjalar melalui saraf pudendu. Melalui pleksus sakralis dari medulla spinalis membantu rangsangan aksi seksual yang berasal dari dalam. Akibat dari dorongan seksual akan mengisi organ seksual dengan mukosa uretra. unsur psikis rangsangan seksual sesuai dengan meningkatnya kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan seksual dengan memikirkan atau berkhayal menyebabkan terjadinya aksi seksual sehingga menimbulkan ejakulasi atau pengeluaran sperma pada saat bermimpi terutama usia remaja. Aksi seksual pada medulla spinalis, fungsi otak tidak terlalu penting, karena rangsangan genital menyebabkan ejakulasi yang dihasilkan dari mekanisme refleks yang sudah terintegrasi pada medulla spinalis lumbalis. Mekanisme ini dapat dirangsang secara psikis dan seksual yang nyata dan banyak kombinasi dari keduanya.
2.5 Pengaturan Fungsi Sexual pada pria
Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon seperti : testosterone, LH, FSH, estrogen dan hormon pertumbuhan.
Pelepasan hormon gonadotropin ( GnRH ) oleh hippotalamus merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk meyekresi LH, hormon, perangsang LH dan FSH. Hipotalamus melepaskan GnRH yang diangkut ke kelenjar hipotalamus anterior dalam merangsang pelepasan LH dan FSH darah porta. Perangsangan hormon ini ditentukan oleh frekuensi dari siklus sekresi dan jumlah GnRH yang dilepaskan setiap siklus. Sekresi LH mengikuti pelepasn GnRH dan sekresi FSH berubah lebih lambat sebagai respon perubahan jangka panjang GnRH
Hormon reprodusi laki-laki

Kelenjar Endokrin  dan Hormon-hormon yang dihasilkan

Jaringan tujuan

Fungsi

a. Hipotalamus-  Hormon Gonadotropin


Hipofisis anterior


Merangsang pengeluaran FSH dan LH dan hormon tumbuh ( Growth hormone )

b.   Hipofisis anterior-          FSH


-          LH
-          Hormon tumbuh


Testis


Testis
Testis


Merangsang sel-sel sertoli pada tubulus seminiferus pada testis untuk mngubah sel-sel spermatid menjadi sperma ( proses spermatogenesis ).Merangsang sel-sel leydig untuk menghasilkan testosterone. 
Memacu agar memulai pembelahan spermatogenia.

c.    Testis-     Hormon Testosteron






Seluruh tubuh






Pada janin merangsang perkembangan organ seks primer.Masa pubertas memengaruhi pertumbuhan alat reproduksi dan cirri-ciri kelamin sekunder ( suara, kejantanan, pertumbuhan rambut, dan kematangan seksual )Dewasa berperan dalam memelihara ciri-ciri kelamin sekunder dan mendorong spermatogenesis.



BAB III
PENUTUP

  A. Kesimpulan
          Organ-organ saluran reproduksi pria berasal dari jaringan embrional yang sama dengan saluran reproduksi wanita. Perkembangan atau penekanan pertumbuhan sel-sel tertentu ditentukan oleh pola kromosom XX atau XY pada saat fertilisasi. Sebagai contoh, crypta urethralis dan duktus urethralis pada wanita analog secara rudimenter (sisa-sisa) dengan prostat pria, sedangkan glans clitoridis dan corpus clitoridis analog dengan penis pada pria.
Seperti sistem reproduksi wanita, pria mempunyai baik organ reproduksi interna maupun eksterna.
Organ eksterna :
-          Penis yang dilalui urethra
-          Scrotum yang berisi epididymis dan sebagian vas deferens
Organ interna :
-          Vas deferens selebihnya
-          Vesicula seminalis dan duktus seminalis
-          Duktus ejakulatorius
-          Prostata
-          Glandula bulbourethralis (Cowper)

 B. Saran
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini jauh dari sempurna,untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak selalu penulis harapkan.Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.



DAFTAR PUSTAKA


Marieb, Elaine N dan Katja Ttoen. 2011. Anatomy and Physiologi. San Fransisco: Pearson
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Verrals, sylvia. 1997. Anatomi Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta: EGC


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Facebook

jangan lupa kasih makan ya !