Blogger Widgets


Minggu, 18 Agustus 2013

Laporan Pendahuluan Hernia Lengkap


LAPORAN PENDAHULUAN
SISTEM PENCERNAAN
HERNIA



DiSusun Oleh:
FIQI RAMADHAN
NIM : 1114201012
Semester IV



PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
TAHUN 2012





    1.      Definisi

Hernia adalah prostusi dari organ melalui lubang defektif yang didapat atau kongenital pada     dinding rongga yang secara normal berisi organ. (Barbara Engram
Hernia adalah prostusi abnormal organ atau jaringan, atau bagian organ yang melalui struktur yang secara abnormal berisi bagian ini.  (Monika Ester)
Hernia adalah penonjolan isi perut, dari rongga yang normal melalui defek pada fasia dan   muskuloaponeuretik dinding perut.  (Mansjoer,Arif dkk.Kapita Selekta Kedokteran)
Hernia adalah: suatu tonjolan yang abnormal dari organ organ intra abdominal keluar dari cavum abdomen tapi masih di capai oleh peritonium.(purnawan djumadi 1999)
Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).
Hernia adalah: kelemahan pada dinding otot abdomen dimana segmen dari isi perut atau struktur abdomen lain yang menonjol atau turn (Ignatavicius Donna, and Bayne Marilynn, 2002). Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems, hal 1368)
Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara normal (Lewis, Sharon Mantik, 2000, Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. Fifth Edition. By Mosby Inc)
Hernia scrotalis adalah merupakan hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum (Syamsuhidajat, 1997, Buku Ilmu Bedah, hal 717).
Pengertian Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246)
Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216).
Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253).        Hernia inguinalis adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio inguinalis). (Oswari, 2000 : 216).
 
    2.      Etiologi
Penyebab dari timbulnya hernia yaitu dapat berupa:
-          Kongenital: kanalis inguinalis belum menutup.
-          Kelemahan dinding abdomen dan peningkatan tekanan intraabdominal yang dapat terjadi karena:
-          Kehamilan
-          Obesitas
-          Mengangkat beban berat
-          Batuk
-          Konstipasi

   3.      Klasifikasi
a)Berdasarkan proses terjadinya hernia terbagi atas :
- Hernia bawaan (Kongenital)
- Hernia dapatan (akuisita)
b)Berdasarkan letak, Hernia terbagi atas :
- Hernia diafragma    - Hernia inguinalis
- Hernia umbilical      - Hernia strotalis
- Hernia insisional.
1. Hernia congenital:
- Hernia umbilikalis
- Hernia diafragnatika
- Hernia inguinalis lateralis
2. Hernia didapat:
- hernia inguinalis medialis
- Hernia femoralis
1. Hernia Inguinalis Indirek
 Terjadi melalui cincin inguinalis dan melalui korola spermatikus melalui korola inguinalis.Umumnya terjadi pada pria daripada wanita.Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil.Hernia ini sangat besar dan sering turun keskrotum.
2.    Hernia Inguinalis Direk
 Hernia ini melewati dinding abdomen diare kelemahan otot,tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis direk;ini lebih umum pada lansia.
3.   Hernia Femoralis
 Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita daripada pria.Ini mulai sebagai penyumbat lemak dikanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk kedalam kantung.
4.   Hernia Umbilikalis
Pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal.Ini biasanya terjadi pada orang yang gemik dan wanita Multipara.

   4.      Manifestasi klinis
    - Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan
       Misalnya:Rasa sakit yang terus menerus
    - Adanya nyeri
       Misalnya:Pasien gelisah dan muntah
    - Jari tangan dapat masuk pesibulus spermatikus sampai keanulus inguinalis interus
-          Nyeri
-          Muntah, mual
-          Nyeri abdomen
-          Distensi abdomen
-          Kram
-          Ada penonjolan keluar

   5.      Patafisiologi
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batukyang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ-organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren.

   6.      Pathway

Mengangkat beban berat,kegemukan,batuk kronis


Peningkatan tekanan intraabdominalis


Defek dinding otot abdominal





Lubang embrional yang tidak menutup/melebar/cincin hernia





Penonjolan isi perut/usus


Usus masuk ke kantung hernia





                                       Belum terjadi            Penjepitan +_          Penjepitn usus 6 jam
                                       Pejempitan                            6 jam.

                                      Benjolan bisa             Belum ada tanda        Ada tanda ilius obstruktiv 
                                      kembali.                     Ilius obsteruktiv.
                          
                                      Reponibilis.               Nyeri daerah hernia             Hernia inkarserta.
                                                                      
                                                                       Hernia ireponsibilis.

Catatan: Mengangkat beban berat,kehamilan,kegemikan atau batuk kronis yang dapat menyebabkan peningkatan tekana intraabdominal.Adanya peningkatan tekana intraabdominal dapat menimbulkan defek dinding otot abdominal.Defek ini terjadi karena adanya kelemahan jaringan atau ruang luas pada ligamen inguinal karena  adanya defek dinding otot abdomen menyebabkan lubang embrional serta cincin hernia tidak menutup/melebar dimana dalam keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk.Karena adanya pelebaran lubang embrional/cincin hernia menyebakan penonjolan isi perut/usus dari rongga yang normal.

   7.      Penatalaksanaan
Pemeriksaan Diagnostik
Sinar X
Pada abdomen akan menunjukkan kuantitas cairan atau gas
Pemeriksaan darah lengkap:Hb yang rendah  dapat mengarah pada anemia/kehilangan darah dan keseimbangan oksigenasi jaringan dan pengurangan Hb yang tersedia dengan anestesi inhalasi,peningkatan Ht mengidetifikasikan dehidrasi.Penurunan Ht mengarah pada kelebihan cairan.
Waktu koagulasi mempengaruhi hemostatis intraoperasi/pascaoperasi
EKG:penemuan akan sesuatu yang sesuatu yang tidak normal membutuhkan prioitas perhatian untuk memberikan anestesi.
2.  Farmakologi
Terapi obat analgetik
3.  Pembedahan
Herniatomi
 Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai  lehernya kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada perlekatan,kemudian diare posisi kantong hernia dijahit,ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Henia plastik
 Dilakukan tindakan memperkecil anulis inguinalis interus dan memperkuat dinding belakang kanalis linguinalis

   8.      Komplikasi

1. Terjadi perlengketan pada isi hernia dengan dinding kantong hernia tidak dapat dimasukkan lagi
2.   Terjadi penekanan pada dinding hernia akibat makin banyaknya usus yang rusak
3.    Pada strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat dan kontinue menyebabkan daerah benjolan merah

   9.      Asuhan keperawatan
a.       Pengkajian
Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
1). Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
2). Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
3). Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
4). Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
5). Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
6). Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

b.      Pemeriksaan
Umum.
TTV,hipotermi, TD normal , Tachicardi.
-          Fisik.
Kepala : Ekspansi wajah menyeringai , merintih , menahan sakit .
Dada : Suara nafas normal.
Perut : Bising usus bisa normal / meeningkat ,benjolan ingiunalis nyeri tekan.
-          Diagnostik.
-          Foto ronsend spinal.
Memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang belakang kecurigaan patologis lain seperti tumor osteomilitis.
-          Elektromigrafi.
Dapat melokalisasi tingkat dasar saraf spinal terutama yang trkena.
-          Venogram epidural.
Dapat di lakukan pada kasus keakuratan dari miogram terbatas.
-          Fungsi lumbal.
Mengsampingkan kondisi yang berhubungan dengan infeksi adanya darah.
-          Scan CT.
Dapat menunjukan kanal spinal yang mengecil, adanya proteksi diskus intervetrebralis.
c.       Diagnose keperawatan
1.            Pre operasi.
-          Nyeri berhubungan dengan peritonium teregang.
-          Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang tindakan operasi.
2.      Post operasi.
-          Nyeri berhubungan dengan terputusnya intergitas jaringan.
-          Kurang prawatan diri berhubungan dengan keterbatasan mobilitas fisiksekunder terhadap pembedahan.
-          Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka pembedahan
- intoleran aktifitas






1.      Analisa data
  ANALISA DATA PRE OPERASI
NO
DATA
PENYEBAB
MASALAH
KEPERAWATAN
1
DS:
-  Klien banyak bertanya tentang penyakit yang dideritanya
DO:
-  Ekspresi wajah tegang dan pucat
-  Respirasi, nadi, tekanan darah meningkat
Proses hospitalisasi
Kurang Informasi
Stress meningkat
Ansietas
2  
   DS:
-  Klien mengeluh nyeri seperti tertusuk, yang akan memburuk dengan adanya batuk, membungkukkan badan, defekasi
DO:
-  Nyeri pada palpasi
-  Wajah tampak meringis
Kongenital dan akuisitas

Peningkatan   kelemahan
tekanan intra                                  otot
abdomen

Invaginasi kanalis inguinalis
Spasme otot
Strangulasi usus
Nyeri
       


   
    H.    ANALISA DATA POST OPERASI
NO
DATA
PENYEBAB
MASALAH
KEPERAWATAN
1
DS.
-  Klien mengeluh nyeri pada luka bekas operasi
DO:
-  Ekspresi wajah meringis
-  Klien memegang daerah yang nyeri
Tindakan pembedahan
Terputusnya kontinuitas jaringan
Ujung saraf bebas terangsang
lmpuls diterima oleh serabut
Diteruskan ke kornu dorsalis di medulla spinalis
Hipotalamus
Cortex cerebri
Nyeri
2
DS:
-  Klien mengeluh tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan
DO:
-  Perubahan jalan, berjalan dengan pincang
-  ADL dilakukan di tempat tidur
-  ADL dibantu perawat keluarga
Tindakan pembedahan
Terputusnya kontinuitas jaringan
Nyeri di daerah post operasi
Takut bergerak
Aktivitas menurun
Intoleransi aktivitas
3
DO:
-  Hipertemia
-  Terdapat luka bekas operasi
Tindakan pembedahan
Terputusnya kontinuitas jaringan
Adanya luka insisi

Post d’entry kuman
Risiko tinggi infeksi
5.       


6.       
7.      I.       RENCANA PERAWATAN PRE OPERASI
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (TUJUAN, KRITERIA RENCANA TINDAKAN)
1
Ansietas berhubungan dengan
kurangnya informasi, ditandai
dengan: ekspresi wajah tegang dan
pucat, respirasi, nadi, tekanan darah
meningkat
T       :    Kecemasan hilang/berkurang dalam waktu 1 x 24 jam setelah perawatan
K          :    -   Tampak rileks/tenang
                  -   Melaporkan ansietas hilang/berkurang
I            :    -   Kaji tingkat ansietas pasien
                  -   Beri informasi yang akurat tentang penyakit yang dideritanya.
                  -   Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya.
                  -   Ajarkan mekanisme koping yang baru.
2
Nyeri berhubungan dengan spasme
otot, ditandai dengan: wajah tampak
meringis, nyeri pada palpasi.
T       :    Nyeri hilang/terkontrol dalam waktu 2 x 24 jam setelah perawatan
K          :    -   Wajah tampak ceria
                  -   Melaporkan nyeri hilang/terkontrol
I            :    -   Kaji tingkat nyeri, catat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus/yang memperberat
                  -   Ajarkan teknik relaksasi
                  -   Lakukan massage pada daerah sekitar nyeri
                  -   Observasi TTV
                  -   Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
8.      J.      RENCANA PERAWATAN POST OPERASI
NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (TUJUAN, KRITERIA RENCANA TINDAKAN)
1
Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan, ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada luka bekas operasi, wajah tampak meringis
T       :    Nyeri hilang/berkurang dalam waktu 2 x 24 jam setelah perawatan
K          :    -   Nyeri hilang/berkurang
                  -   Wajah tampak ceria
I            :    -   Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
                  -   Kaji tingkat nyeri, lokasi, lamanya serangan
                  -   Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam
                  -   Anjurkan klien untuk merubah posisi setiap 2 jam
                  -   Kolaborasi pemberian obat analgetik sesuai indikasi
2
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri yang dirasakan pada daerah bekas operasi ditandai dengan perubahan jalan, ADL dilakukan di tempat tidur, ADL dibantu oleh perawat/keluarga
T       :    Klien dapat melakukan aktivitas sendiri dalam waktu 2 x 24 jam setelah perawatan
K          :    -   Klien mampu melakukan aktivitas sendiri
I            :    -   Catat respon emosi/perilaku mobilitas. Berikan aktivitas yang dapat ditoleransi.
                  -   Anjurkan pasien untuk tetap ikut berperan serta dalam aktivitas sehari-hari dalam keterbatasan individu.
                  -   Bantu pasien dalam melakukan aktivitas
3
Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan ditandai dengan
DS: -
DO:
-   Hipertermia
-   Terdapat luka bekas operasi
T       :    Tidak terjadi infeksi pada area bekas operasi dalam waktu 3 x 24 jam setelah perawatan
K          :    -   Luka operasi kering
                  -   Tidak ada tanda-tanda infeksi
I            :    -   Awasi tanda-tanda infeksi
                  -   Ganti alat tenun dan pakaian setiap hari
                  -   Jaga kebersihan diri dan lingkungan
                  -   Ganti balutan setelah 2 hari post operasi dan selanjutnya rutin setiap hari dengan teknik septik/aseptik.
                  -   Kolaborasi untuk pemberian obat antibiotik


        Pre operasi.
DX I.
-          Puasakan klien 12 jam sebelum pembiusan.
R/ Pengosongan lambung memerlukan waktu sebelum di lakukan anestesi.
-          Persiapan mental klen.
R/ Peningkatan pegetahuan klien akan kooperatif dalam tindakan yang akan di lakukan.
-          Bersikan kulit daerah operasi .
R/ Mencegah infeksi selama operasi.
DX II.
-          Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tetang tindakan operasi.
-          Kreteria : .
-          Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi.
-          Pemeriksaan diagnostik dan rencana tindakan.
Intervensi :
-          Berikan informasi tentang pemeriksaan diagnostik.
R/ Informasi akan mendorong partisipasi klien dalam pengambilan keputusa dan kemandirian maximum.
2.      Post operasi.
DX I.
-          Berikan HE Tentang tehnik relaksasidan distraksi.
R/ Mengurangi rasa nyeri yang ada dengan pengalihan perhatian.
-          Perawatan luka pada daerah operasi.
R/ Mencegah terjadinya infeksi.
-          Observasi TTV.
R/ Mengetahui perkembangan dan tanda tanda penurunan /peningkatan kesehatan klien.
DX II.
-          Memberikan HE pada keluarga tentang perawatan klien.
R/ Memberikan rasa nyaman pada klien.
-          Observasi TTV.
R/  Mengetahui kegawatan / penurunan kesehatan klien.
DX III.
-          Inspeksi kulit untuk adanya iritasi / robekan / luka.
R/ Deteksi tanda mulanya peradangan.
-          Memberikan perawatan pasien sesuai protap.
R/ Nenberikan perawatan yang profesional dan mencegah terjadinya mal praktek.

   10.  Penutupan
A.    kesimpulan
B.     saran

   11.  Daftar pustaka
Doengoes ME (2000), Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, EGC , Jakarta.
-Purnawan Djunaidi dkk (1999) , Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3, Media    Ausculapius FKUI , jakarta.
-Barbara Engran (1999) , Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah Volum 1 , EGC, Jakarta. 
Barbara Engram, Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta, 1998.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Griffith H. Winter, Buku Pintar Kesehatan, EGC, Jakarta, 1994.
Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, EGC, Jakarta, 1995.
Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.
Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : FKUI.
W.A. Dorland Newman, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta, 2002.

My Facebook

jangan lupa kasih makan ya !