LAPORAN PENDAHULUAN
SISTEM PENCERNAAN
HERNIA
DiSusun Oleh:
FIQI RAMADHAN
NIM : 1114201012
Semester IV
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
|
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
|
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
|
TAHUN 2012
|
1. Definisi
Hernia adalah prostusi dari organ
melalui lubang defektif yang didapat atau kongenital pada dinding rongga yang
secara normal berisi organ. (Barbara Engram
Hernia adalah prostusi abnormal organ atau jaringan, atau bagian organ yang melalui struktur yang secara abnormal berisi bagian ini. (Monika Ester)
Hernia adalah prostusi abnormal organ atau jaringan, atau bagian organ yang melalui struktur yang secara abnormal berisi bagian ini. (Monika Ester)
Hernia adalah penonjolan isi perut, dari rongga yang normal
melalui defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut.
(Mansjoer,Arif dkk.Kapita Selekta Kedokteran)
Hernia adalah: suatu tonjolan yang abnormal dari organ organ intra abdominal keluar dari cavum abdomen tapi masih di capai oleh peritonium.(purnawan djumadi 1999)
Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).
Hernia adalah: kelemahan pada dinding otot abdomen dimana segmen dari isi perut atau struktur abdomen lain yang menonjol atau turn (Ignatavicius Donna, and Bayne Marilynn, 2002). Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems, hal 1368)
Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara normal (Lewis, Sharon Mantik, 2000, Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. Fifth Edition. By Mosby Inc)
Hernia scrotalis adalah merupakan hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum (Syamsuhidajat, 1997, Buku Ilmu Bedah, hal 717).
Pengertian Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246)
Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216).
Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253). Hernia inguinalis adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio inguinalis). (Oswari, 2000 : 216).
Hernia adalah: suatu tonjolan yang abnormal dari organ organ intra abdominal keluar dari cavum abdomen tapi masih di capai oleh peritonium.(purnawan djumadi 1999)
Secara umum Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994).
Hernia adalah: kelemahan pada dinding otot abdomen dimana segmen dari isi perut atau struktur abdomen lain yang menonjol atau turn (Ignatavicius Donna, and Bayne Marilynn, 2002). Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems, hal 1368)
Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara normal (Lewis, Sharon Mantik, 2000, Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of Clinical Problems. Fifth Edition. By Mosby Inc)
Hernia scrotalis adalah merupakan hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum (Syamsuhidajat, 1997, Buku Ilmu Bedah, hal 717).
Pengertian Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246)
Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216).
Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253). Hernia inguinalis adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio inguinalis). (Oswari, 2000 : 216).
2. Etiologi
Penyebab dari timbulnya hernia yaitu
dapat berupa:
-
Kongenital: kanalis inguinalis belum menutup.
-
Kelemahan dinding abdomen dan peningkatan tekanan intraabdominal yang dapat
terjadi karena:
- Kehamilan
- Obesitas
- Mengangkat beban berat
- Batuk
- Konstipasi
- Kehamilan
- Obesitas
- Mengangkat beban berat
- Batuk
- Konstipasi
3. Klasifikasi
a)Berdasarkan proses terjadinya hernia terbagi atas :
- Hernia bawaan (Kongenital)
- Hernia dapatan (akuisita)
b)Berdasarkan letak, Hernia terbagi atas :
- Hernia diafragma - Hernia inguinalis
- Hernia umbilical - Hernia strotalis
- Hernia insisional.
1. Hernia congenital:
- Hernia umbilikalis
- Hernia diafragnatika
- Hernia inguinalis lateralis
2. Hernia didapat:
- hernia inguinalis medialis
-
Hernia femoralis
1. Hernia Inguinalis Indirek
Terjadi melalui cincin
inguinalis dan melalui korola spermatikus melalui korola inguinalis.Umumnya
terjadi pada pria daripada wanita.Insidennya tinggi pada bayi dan anak
kecil.Hernia ini sangat besar dan sering turun keskrotum.
2. Hernia
Inguinalis Direk
Hernia ini melewati dinding
abdomen diare kelemahan otot,tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis
dan femoralis direk;ini lebih umum pada lansia.
3. Hernia Femoralis
Hernia femoralis terjadi
melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita daripada pria.Ini mulai
sebagai penyumbat lemak dikanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap
menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk kedalam
kantung.
4. Hernia Umbilikalis
Pada orang dewasa lebih umum pada
wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal.Ini biasanya terjadi pada orang
yang gemik dan wanita Multipara.
4. Manifestasi
klinis
- Adanya benjolan diselangkangan/kemaluan
Misalnya:Rasa sakit yang terus menerus
- Adanya nyeri
Misalnya:Pasien gelisah dan muntah
- Jari tangan dapat masuk pesibulus spermatikus sampai keanulus inguinalis
interus
-
Nyeri
-
Muntah, mual
-
Nyeri abdomen
-
Distensi abdomen
-
Kram
-
Ada penonjolan keluar
5. Patafisiologi
Hernia berkembang ketika intra
abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat
sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batukyang kuat atau bersin
dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan
pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin
disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah
tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan
yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi
kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia.
Karena organ-organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan
berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan
mengakibatkan kerusakan yang sangat parah.sehingga akhirnya menyebabkan kantung
yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah
terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren.
6. Pathway
Mengangkat
beban berat,kegemukan,batuk kronis
Peningkatan
tekanan intraabdominalis
Defek
dinding otot abdominal
Lubang embrional yang tidak menutup/melebar/cincin hernia
Penonjolan isi perut/usus
Usus masuk ke kantung hernia
Belum terjadi
Penjepitan
+_ Penjepitn usus 6 jam
Pejempitan
6 jam.
Benjolan
bisa Belum
ada tanda Ada tanda ilius obstruktiv
kembali.
Ilius obsteruktiv.
Reponibilis.
Nyeri daerah
hernia
Hernia inkarserta.
Hernia ireponsibilis.
Catatan: Mengangkat beban
berat,kehamilan,kegemikan atau batuk kronis yang dapat menyebabkan peningkatan
tekana intraabdominal.Adanya peningkatan tekana intraabdominal dapat
menimbulkan defek dinding otot abdominal.Defek ini terjadi karena adanya
kelemahan jaringan atau ruang luas pada ligamen inguinal karena adanya
defek dinding otot abdomen menyebabkan lubang embrional serta cincin hernia
tidak menutup/melebar dimana dalam keadaan normal jari tangan tidak dapat
masuk.Karena adanya pelebaran lubang embrional/cincin hernia menyebakan
penonjolan isi perut/usus dari rongga yang normal.
7. Penatalaksanaan
Pemeriksaan Diagnostik
Sinar X
Pada abdomen akan menunjukkan
kuantitas cairan atau gas
Pemeriksaan darah lengkap:Hb yang
rendah dapat mengarah pada anemia/kehilangan darah dan keseimbangan
oksigenasi jaringan dan pengurangan Hb yang tersedia dengan anestesi inhalasi,peningkatan
Ht mengidetifikasikan dehidrasi.Penurunan Ht mengarah pada kelebihan cairan.
Waktu koagulasi mempengaruhi
hemostatis intraoperasi/pascaoperasi
EKG:penemuan akan sesuatu yang
sesuatu yang tidak normal membutuhkan prioitas perhatian untuk memberikan
anestesi.
2.
Farmakologi
Terapi obat analgetik
3.
Pembedahan
Herniatomi
Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai
lehernya kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada perlekatan,kemudian
diare posisi kantong hernia dijahit,ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Henia plastik
Dilakukan
tindakan memperkecil anulis inguinalis interus dan memperkuat dinding belakang
kanalis linguinalis
8. Komplikasi
1. Terjadi perlengketan pada isi
hernia dengan dinding kantong hernia tidak dapat dimasukkan lagi
2. Terjadi penekanan pada dinding hernia akibat makin banyaknya
usus yang rusak
3.
Pada strangulasi nyeri yang timbul lebih hebat dan kontinue
menyebabkan daerah benjolan merah
9. Asuhan
keperawatan
a. Pengkajian
Pengkajian
pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
1).
Sirkulasi
Gejala :
riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau
stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
2).
Integritas ego
Gejala :
perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya
financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda :
tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi
simpatis.
3).
Makanan / cairan
Gejala :
insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ;
malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan
pemasukkan / periode puasa pra operasi).
4).
Pernapasan
Gejala :
infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
5).
Keamanan
Gejala :
alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi
immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ;
Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia
malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi
obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi
transfuse.
Tanda :
menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
6).
Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala :
pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik
glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic,
antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas,
atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan
ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial
bagi penarikan diri pasca operasi).
b. Pemeriksaan
Umum.
TTV,hipotermi, TD normal , Tachicardi.
-
Fisik.
Kepala : Ekspansi wajah menyeringai , merintih ,
menahan sakit .
Dada : Suara nafas normal.
Perut : Bising usus bisa normal / meeningkat ,benjolan
ingiunalis nyeri tekan.
-
Diagnostik.
-
Foto ronsend spinal.
Memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada
tulang belakang kecurigaan patologis lain seperti tumor osteomilitis.
-
Elektromigrafi.
Dapat melokalisasi tingkat dasar saraf spinal terutama
yang trkena.
-
Venogram epidural.
Dapat di lakukan pada kasus keakuratan dari miogram
terbatas.
-
Fungsi lumbal.
Mengsampingkan kondisi yang berhubungan dengan infeksi
adanya darah.
-
Scan CT.
Dapat menunjukan kanal spinal yang mengecil, adanya
proteksi diskus intervetrebralis.
c. Diagnose
keperawatan
1.
Pre operasi.
-
Nyeri berhubungan dengan peritonium teregang.
-
Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang tindakan operasi.
2.
Post operasi.
-
Nyeri berhubungan dengan terputusnya intergitas jaringan.
-
Kurang prawatan diri berhubungan dengan keterbatasan mobilitas
fisiksekunder terhadap pembedahan.
-
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka pembedahan
- intoleran aktifitas
1. Analisa
data
ANALISA
DATA PRE OPERASI
NO
|
DATA
|
PENYEBAB
|
MASALAH
KEPERAWATAN
|
1
|
DS:
- Klien banyak bertanya tentang penyakit yang
dideritanya
DO:
- Ekspresi wajah tegang dan pucat
- Respirasi, nadi, tekanan darah meningkat
|
Proses
hospitalisasi
↓
Kurang
Informasi
↓
Stress
meningkat
|
Ansietas
|
2
|
DS:
- Klien mengeluh nyeri seperti tertusuk, yang
akan memburuk dengan adanya batuk, membungkukkan badan, defekasi
DO:
- Nyeri pada palpasi
- Wajah tampak meringis
|
Kongenital
dan akuisitas
↓
Peningkatan kelemahan
tekanan intra otot
abdomen
↓
Invaginasi
kanalis inguinalis
↓
Spasme
otot
↓
Strangulasi
usus
|
Nyeri
|
H. ANALISA
DATA POST OPERASI
NO
|
DATA
|
PENYEBAB
|
MASALAH
KEPERAWATAN
|
1
|
DS.
- Klien mengeluh nyeri pada luka bekas operasi
DO:
- Ekspresi wajah meringis
- Klien memegang daerah yang nyeri
|
Tindakan
pembedahan
↓
Terputusnya
kontinuitas jaringan
↓
Ujung
saraf bebas terangsang
↓
lmpuls
diterima oleh serabut
↓
Diteruskan
ke kornu dorsalis di medulla spinalis
↓
Hipotalamus
↓
Cortex
cerebri
|
Nyeri
|
2
|
DS:
- Klien mengeluh tidak mampu melakukan
aktivitas yang biasanya dilakukan
DO:
- Perubahan jalan, berjalan dengan pincang
- ADL dilakukan di tempat tidur
- ADL dibantu perawat keluarga
|
Tindakan
pembedahan
↓
Terputusnya
kontinuitas jaringan
↓
Nyeri
di daerah post operasi
↓
Takut
bergerak
↓
Aktivitas
menurun
|
Intoleransi aktivitas
|
3
|
DO:
- Hipertemia
- Terdapat luka bekas operasi
|
Tindakan
pembedahan
↓
Terputusnya
kontinuitas jaringan
↓
Adanya
luka insisi
Post
d’entry kuman
|
Risiko tinggi infeksi
|
5.
6.
7.
I.
RENCANA PERAWATAN PRE OPERASI
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (TUJUAN, KRITERIA RENCANA
TINDAKAN)
|
1
|
Ansietas
berhubungan dengan
kurangnya
informasi, ditandai
dengan:
ekspresi wajah tegang dan
pucat,
respirasi, nadi, tekanan darah
meningkat
|
T : Kecemasan hilang/berkurang dalam waktu 1 x
24 jam setelah perawatan
K : - Tampak
rileks/tenang
- Melaporkan ansietas hilang/berkurang
I : - Kaji
tingkat ansietas pasien
- Beri informasi yang akurat tentang penyakit
yang dideritanya.
- Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan
masalah yang dihadapinya.
- Ajarkan mekanisme koping yang baru.
|
2
|
Nyeri
berhubungan dengan spasme
otot,
ditandai dengan: wajah tampak
meringis,
nyeri pada palpasi.
|
T : Nyeri hilang/terkontrol dalam waktu 2 x 24
jam setelah perawatan
K : - Wajah
tampak ceria
- Melaporkan nyeri hilang/terkontrol
I : - Kaji
tingkat nyeri, catat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus/yang
memperberat
- Ajarkan teknik relaksasi
- Lakukan massage pada daerah sekitar nyeri
- Observasi TTV
- Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
|
8.
J. RENCANA
PERAWATAN POST OPERASI
NO
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (TUJUAN, KRITERIA RENCANA
TINDAKAN)
|
1
|
Nyeri berhubungan dengan
terputusnya kontinuitas jaringan, ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada
luka bekas operasi, wajah tampak meringis
|
T : Nyeri hilang/berkurang dalam waktu 2 x 24
jam setelah perawatan
K : - Nyeri
hilang/berkurang
- Wajah tampak ceria
I : - Observasi
keadaan umum dan tanda-tanda vital
- Kaji tingkat nyeri, lokasi, lamanya
serangan
- Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam
- Anjurkan klien untuk merubah posisi setiap
2 jam
- Kolaborasi pemberian obat analgetik sesuai
indikasi
|
2
|
Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan nyeri yang dirasakan pada daerah bekas operasi ditandai dengan
perubahan jalan, ADL dilakukan di tempat tidur, ADL dibantu oleh
perawat/keluarga
|
T : Klien dapat melakukan aktivitas sendiri
dalam waktu 2 x 24 jam setelah perawatan
K : - Klien
mampu melakukan aktivitas sendiri
I : - Catat
respon emosi/perilaku mobilitas. Berikan aktivitas yang dapat ditoleransi.
- Anjurkan pasien untuk tetap ikut berperan
serta dalam aktivitas sehari-hari dalam keterbatasan individu.
- Bantu pasien dalam melakukan aktivitas
|
3
|
Risiko tinggi infeksi berhubungan
dengan tindakan pembedahan ditandai dengan
DS:
-
DO:
- Hipertermia
- Terdapat luka bekas operasi
|
T : Tidak terjadi infeksi pada area bekas
operasi dalam waktu 3 x 24 jam setelah perawatan
K : - Luka
operasi kering
- Tidak ada tanda-tanda infeksi
I : - Awasi
tanda-tanda infeksi
- Ganti alat tenun dan pakaian setiap hari
- Jaga kebersihan diri dan lingkungan
- Ganti balutan setelah 2 hari post operasi
dan selanjutnya rutin setiap hari dengan teknik septik/aseptik.
- Kolaborasi untuk pemberian obat antibiotik
|
Pre operasi.
DX I.
-
Puasakan klien 12 jam sebelum pembiusan.
R/ Pengosongan lambung memerlukan waktu sebelum di lakukan anestesi.
-
Persiapan mental klen.
R/ Peningkatan pegetahuan klien akan kooperatif dalam tindakan yang akan
di lakukan.
-
Bersikan kulit daerah operasi .
R/ Mencegah infeksi selama operasi.
DX II.
-
Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tetang tindakan operasi.
-
Kreteria : .
-
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi.
-
Pemeriksaan diagnostik dan rencana tindakan.
Intervensi :
-
Berikan informasi tentang pemeriksaan diagnostik.
R/ Informasi akan mendorong partisipasi klien dalam pengambilan keputusa
dan kemandirian maximum.
2.
Post operasi.
DX I.
-
Berikan HE Tentang tehnik relaksasidan distraksi.
R/ Mengurangi rasa nyeri yang ada dengan pengalihan perhatian.
-
Perawatan luka pada daerah operasi.
R/ Mencegah terjadinya infeksi.
-
Observasi TTV.
R/ Mengetahui perkembangan dan tanda tanda penurunan /peningkatan
kesehatan klien.
DX II.
-
Memberikan HE pada keluarga tentang perawatan klien.
R/ Memberikan rasa nyaman pada klien.
-
Observasi TTV.
R/ Mengetahui kegawatan / penurunan kesehatan klien.
DX III.
-
Inspeksi kulit untuk adanya iritasi / robekan / luka.
R/ Deteksi tanda mulanya peradangan.
-
Memberikan perawatan pasien sesuai protap.
R/ Nenberikan perawatan yang profesional dan mencegah terjadinya mal
praktek.
10. Penutupan
A. kesimpulan
B. saran
11. Daftar
pustaka
Doengoes ME (2000), Rencana
Asuhan Keperawatan Edisi 3, EGC , Jakarta.
-Purnawan Djunaidi dkk (1999) , Kapita
Selekta Kedokteran Edisi 3, Media Ausculapius FKUI ,
jakarta.
-Barbara
Engran (1999) , Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah Volum 1 ,
EGC, Jakarta.
Barbara Engram, Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta, 1998.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Griffith H. Winter, Buku Pintar Kesehatan, EGC, Jakarta, 1994.
Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, EGC, Jakarta, 1995.
Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.
Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : FKUI.
W.A. Dorland Newman, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta, 2002.
Barbara Engram, Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah, EGC, Jakarta, 1998.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Griffith H. Winter, Buku Pintar Kesehatan, EGC, Jakarta, 1994.
Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan, EGC, Jakarta, 1995.
Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.
Oswari, E. 2000. Bedah dan Perawatannya. Jakarta : FKUI.
W.A. Dorland Newman, Kamus Kedokteran Dorland, EGC, Jakarta, 2002.
