Memang tak mudah melupakan dosa perselingkuhan. Rican Association For Marriage And Family menuliskan, 25% pasangan kekasih sulit mengatasi hal ini. Bagi sebagaian pasangan, Putus/mengakhiri hubungan adalah jalan terbaik mengakhiri sakit hatinya. Sementara sebagian lainnya menganggap putus/mengakhiri hubungan bukan sebuah solusi. Selama masih bisa mempertahankan hubungan yang dibangun, kenapa tidak ? dalam hal ini pemulihan hubungan antar pasangan menjadi amat penting.
Menurut kingkin mensyaratkan tiga
dimensi yang harus ditingkatkan.
Dimensi Pertama Adalah cara berkomunikasi.
Ini terkait erat dengan upaya
memperluas wawasan. Permasalahan yang terjadi, sang pria/ wanita kerap
meninggalkan kekasihnya di landasan.
Pasangan ini jarang mentransfer
pengalaman mereka masing-masing,misalnya mengambil kebijakan, mereka hanya
memilih hal-hal ringan ketika berbicara.
Dengan cara gandeng tangannya untuk melihat bunga mawar yang
ditanamnya. “Pohon mawarku berbunga nich. Tau gak ini tandanya apa ?”
Dimensi Kedua Adalah Ruhiyah
Tumbuhkan jiwa pemaaf. Kurangi amarah.
Sebab takkan sampai suatu pesan kalau disampaikan dengan amarah
ΓΌ Dimensi Ketiga Adalah Iman
Dimensi
ini paling penting untuk ditingkatkan. Ajak pasangan anda untuk mengisi
spiritualitas diri lewat pengajian, ziarah ke ulama besar dan lain
sebagainya.
Sudah selesai masalahnya ? tentu saja
belum ! Karena masih ada trauma yang
menyisa dalam jiwa. Tak bisa dipungkiri, ibarat sebuah kaset, trauma
perselingkuhan akan berputar manakala hadir hal-hal yang memicunya.
Pambadjeng
Budho Mastikosari menyarankan agar penyebab perselingkuhan
dicari dan dituntaskan penyelesaiannya. Kalau ini sudah dituntaskan, maka
trauma dapat dihindarkan. Tapi itu saja tak cukup, butuh bukti yang menyakinkan
bahwa pelaku selingkuh benar-benar menyesali kesalahannya. Umumnya ia akan
menggandakan cintanya pada pasangannya untuk menutupi rasa bersalahnya.
Untuk korban selingkuh ?
“Cobalah
menyerahkan masalah kita pada Allah bahwa musibah itu terjadi dalam diri kita
pasti karena Allah mengizinkannya. Yang harus digali sekarang adalah hiikmah
dibalik musibah itu. Misalnya kalau tak terjadi hal itu, mungkin ia takkan
merasakan rapel cinta dari pasangannya atau mungkin ia masih tetap seorang
kekasih yang disepelekan pasangannya,” ujar Kingkin
Sekali lagi memang tak mudah. Semua
itu tergantung anda dalam mengelola pilihan anda. Putus/mengakhiri hubungan
menyisakan tangis.
Suatu Hubungan adakah sebuah proses
belajar. Layaknya orang belajar. Ada kalanya kita harus berbenturan dengan
hal-hal yang tidak menyenangkan. Berusaha menyingkapinya dengan positif adalah
jalan keluar yang terbaik.
Memang, pengalaman yang kejam telah
menorehkan luka di hati. Tapi jangan menyerah untuk melawannya. Mengingat cinta
dan kebaikan pasangan dapat menjadi terapi untuk menundukkan hati yang terluka.
Barangkali menyimak syair Syekh Sa’di Syirazi dapat mengingatkan kembali betapa
pasangan kita adalah teman hidup yang sangat kita inginkan. ”Aku hanya
mengikatkan hatiku pada hatimu, tiada memperdulikan dunia lain.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar