LAPORAN PENDAHULUAN
TUBERCULOSIS PARU
DiSusun Oleh:
FIQI RAMADHAN
NIM : 1114201012
Semester III
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
|
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
|
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
|
TAHUN 2012
|
BAB
I
TINJAUAN
TEORI
1.1 Definisi
Tuberculosis
paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Dapat
juga ditularkan kebagian tubuh lain. Termasuk meningen, ginjal, tulang dan
nodus limfe, agen infeksius terutama adalah batang aerobic tahan asam yang
tumbuh dengan lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar ultraviolet.
(Brunnner & Suddarth, 2002).
Tuberculosis adalah penyakit infeksi
yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat
bervariasi ( Mansjoer , 1999).
1.2
Etiologi
Penyebab
tuberculosis adalah Myobakterium tuberkulosa, sejenis kuman berbentuk batang
dengan ukuran panjang 1-4/Um dengan tebal 0,3-0,6/Um dan tahan asam . Spesies
lain kuman ini yang dapat memberikan
infeksi pada manusia adalah M.bovis, M.kansasii, M. intracellulare, sebagian
besar kuman terdiri dari asam lemak (lipid) lipid inilah yang membuat kuman
lebih tahan terhadap asam dam lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin. Di dalam
jaringan kuman hidup sebagai parasit intrasellular, yakni dalam sito plasma
magrofak. Sifat lain kuman ini adalah aerop. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman
lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya ( Mansjoer , 2000).
1.3 Manifestasi
Klinis
1.
Gejala Umum
Batuk
terus menerus dan berdahak 3 (tiga) minggu atau lebih.
Merupakan
proses infeksi yang dilakukan Mycobacterium Tuberkulosis yang menyebabkan lesi
pada jaringan parenkim
paru.
2.
Gejala lain yang sering dijumpai
a.
Dahak bercampur darah
Darah
berasal dari perdarahan dari saluran napas bawah, sedangkan dahak adalah hasil
dari membran submukosa yang terus memproduksi sputum untuk berusaha
mengeluarkan benda saing.
b.
Batuk darah
Terjadi akibat perdarahan dari
saluran napas bawah, akibat iritasi karena proses batuk dan infeksi
Mycobacterium Tuberkulosis.
c.
Sesak napas dan nyeri dada
Sesak
napas diakibatkan karena berkurangnya luas lapang paru akibat terinfeksi
Mycobacterium Tuberkulosis, serta akibat terakumulasinya sekret pada saluran
pernapasan.
Nyeri dada
timbul akibat lesi yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, serta nyeri dada juga
dapat mengakibatkan sesak napas.
d.
Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan
(malaise), berkeringat malam walau tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari
sebulan. Merupakan gejala yang berurutan terjadi, akibat batuk yang terus
menerus mengakibatkan kelemahan, serta nafsu makan berkurang, sehingga berat
badan juga menurun, karena kelelahan serta infeksi mengakibatkan kurang enak
badan dan demam meriang, karena metabolisme tinggi akibat pasien berusaha
bernapas cepat mengakibatkan berkeringat pada malam hari
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006)
1.4
Patofisiologi
Port de’ entri kuman microbaterium tuberculosis adalah
saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit, kebanyakan
infeksi tuberculosis terjadi melalui udara (air borne), yaitu melalui inhalasi
droppet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang
terinfeksi.
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya
diinhalasi terdiri dari satu sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar
cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak
menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya di bagian
bawah lobus atau paru-paru, atau di bagian atas lobus bawah. Basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat
tersebut dan memfagosit bacteria namun tidak membunuh organisme tersebut.
Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang
terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut.
Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak ada sisa yang
tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus, dan bakteri terus difagosit
atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening
menuju ke kelenjar bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi mcajadi
lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit,
yang dikelilingi oleh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20
hari.
1.5
Penatalaksanaan
Medis
Panduan OAT dan peruntukannya
1.
Kategori
-1(2 HRZE / 4H3R3)
Diberikan untuk pasien baru
- pasien
barui TB paru BTA positif
- Pasien
TB paru BTA negatif thorak positif
- Pasien
TB ekstra paru
2.
Kategori
– 2 (2HRZES / HRZE / 5H3R3E3)
Diberikan
untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnyaq
- Pasien
kambuh
- Pasien
gagal
- Pasien
dengan pengobatan 3 tahun terputus ( Default)
3.
OAT
sisipan (HRZE)
Paket
sisipan KDT adalah sama seperti panduan paket untuk taha kategori -1 yang diberikan selama sebulan ( 28 hari)
Jenis dan dosis obat OAT
1.
Isoniasid
(H)
Obat
ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolic aktif. Dosis harian
yang dianjurkan 5 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 X
semingggu diberikan dengan dosis 10 mg / kg BB.
2.
Rifamisin
(R)
Dapat
m,embnunuh kuman semi dormanf yang tidak dapat dibunuh isoniasid. Dosis 10 mg /
kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 X seminggu.
3.
Pirasinamid
(Z)
Dapat
membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian
dianjurkan 25 mg / kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 X seminggu
4.
Streptomisin
(S)
Dosis
harian dianjurkan 15 mg / kg BB, sedeangkan untuk pengobatan intermiten 3 X
seminggu diberikan dengaqn dosis yang sama. Penderita berumur sampai 60 tahun
dosisnya 0,75 gr/ hari. Sedangkan untuk berumur 60 th atau lebih diberikan 0,50
gr/ hari.
(Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2006)
1.6 Pemeriksaan
Penunjang
1. Kultur
sputum
Positif
untuk mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
2. Ziehl
– Nelsons
Pemakaian
asam cepat pada gelas kaca untuk asupan cairan dalaqm darah, positif untuk
basil asam.
3. Test
kulit ( PPD, Mantoux, potongan volmel)
Reaksi
positif ( area indurasi 10 mm / lebih besar terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi
intra dermal antigen)
4. Elisa
(Western)
Dapat
menyatakan adanya HIV.
5. Foto
thorak
Dapat
menunjukkkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi
sembuh primer. Perubahan menunjukkkan lebih luas TB dapat termasuk ronggga,
area fibrosa.
6. Histologi
/ kultur jaringan
Termasuk
pembersihan gaster, urine, cairan serebrospinal, biopsi kulit. Positip untuk
mycobacterium tuberkulosis
7. Biopsi
jarum pada jaringan paru
Positip
untuk granuloma TB, adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis
8. Elektrosit
Dapat
tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi.
9. GDA
Dapat
norma tergantung pada lokasi dan beratnya kerusakan ruang mati.
10. Pemeriksaaan
fugsi paru
Penurunan
kapasitas vital, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleura ( TB paru kronis
paru luas )
(
Marilynn E. Doenges, 2000)
BAB II
PROSES KEPERAWATAN
2.1
Pengakjian
Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan
dengan Tuberkulosis paru (Doengoes, 2000) ialah sebagai berikut :
1. Riwayat PerjalananPenyakit
1. Riwayat PerjalananPenyakit
a.
Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada malam hari.
Objektif : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b. Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d. Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Obiektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Objektif : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
2.
Riwayat Penyakit Sebelumnya:
a. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh.
b. Pernah berobat tetapi tidak sembuh.
c. Pernah berobat tetapi tidak teratur.
d. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru.
e. Daya tahan tubuh yang menurun.
f. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur.
a. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh.
b. Pernah berobat tetapi tidak sembuh.
c. Pernah berobat tetapi tidak teratur.
d. Riwayat kontak dengan penderita Tuberkulosis Paru.
e. Daya tahan tubuh yang menurun.
f. Riwayat vaksinasi yang tidak teratur.
3.
Riwayat Pengobatan Sebelumnya:
a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya.
b. Jenis, warna, dosis obat yang diminum.
c. Berapa lama. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya.
d. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir.
a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya.
b. Jenis, warna, dosis obat yang diminum.
c. Berapa lama. pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan penyakitnya.
d. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir.
4. Riwayat Sosial
Ekonomi:
a. Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu dan tempat bekerja, jumlah penghasilan.
b. Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikisi dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang marnpu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak bersemangat dan putus harapan.
a. Riwayat pekerjaan. Jenis pekerjaan, waktu dan tempat bekerja, jumlah penghasilan.
b. Aspek psikososial. Merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikisi dengan bebas, menarik diri, biasanya pada keluarga yang kurang marnpu, masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak, masalah tentang masa depan/pekerjaan pasien, tidak bersemangat dan putus harapan.
5.
Faktor Pendukung:
a. Riwayat lingkungan.
b. Pola hidup.
Nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat dan tidur, kebersihan diri.
c. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit, pencegahan, pengobatan dan perawatannya.
a. Riwayat lingkungan.
b. Pola hidup.
Nutrisi, kebiasaan merokok, minum alkohol, pola istirahat dan tidur, kebersihan diri.
c. Tingkat pengetahuan/pendidikan pasien dan keluarga tentang penyakit, pencegahan, pengobatan dan perawatannya.
2.2
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah, Kelemahan, upaya batuk
buruk. Edema trakeal/faringeal.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan
dengan: Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, Kerusakan membran
alveolar kapiler, Sekret yang kental, Edema bronchial.
3. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran
infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun,
sekret yang inenetap, Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar,
Malnutrisi, Terkontaminasi oleh lingkungan, Kurang pengetahuan tentang infeksi
kuman.
4. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang
dari kebutuhan berhubungan dengan: Kelelahan, Batuk yang sering, adanya
produksi sputum, Dispnea, Anoreksia, Penurunan kemampuan finansial.
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi,
pengobatan, pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan,
Interpretasi yang salah, Informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat,
Terbatasnya pengetahuan/kognitif
2.3
Intervensi
No
Dx
|
Intervensi
|
Rasional
|
1
|
A . Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan,
imma, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.
b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk
efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis
c. Berikan pasien posisi semi atau Fowler,
Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.
d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila
perlu.
e. Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari
kecuali kontraindikasi.
f. Lembabkan udara/oksigen inspirasi.
g. Berikan obat: agen mukolitik, bronkodilator,
kortikosteroid sesuai indikasi.
h. Bantu inkubasi darurat bila perlu.
|
- Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis,
ronki indikasi akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas
sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat.
- Pengeluaran
sulit bila sekret tebal, sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka
bronchial yang memerlukan evaluasi/intervensi lanjut.
- Meningkatkan ekspansi paru, ventilasi
maksimal membuka area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah
dikeluarkan
- Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction dilakukan bila
pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
- Membantu mengencerkan secret sehingga
mudah dikeluarkan
- Mencegah pengeringan membran mukosa.
- Menurunkan kekentalan sekret, lingkaran ukuran lumen
trakeabronkial, berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang luas.
- Diperlukan pada kasus jarang bronkogenik. dengan edema
laring atau perdarahan paru akut.
|
2
|
a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal.
Peningkatan upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan
b. Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat
tanda-tanda sianosis dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna
kuku.
c. Demonstrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan napas
dengan bibir disiutkan, terutama pada pasien dengan fibrosis atau kerusakan
parenkim.
d. Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas
sesuai kebutuhan.
e. Monitor GDA
f. Berikan oksigen sesuai indikasi.
|
- Tuberkulosis
paru dapat rnenyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-pani yang berasal dari
bronkopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural effusion dan
meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.
- Akumulasi
secret dapat menggangp oksigenasi di organ vital dan jaringan.
- Meningkatnya
resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan napas.
- Mengurangi
konsumsi oksigen pada periode respirasi.
- Menurunnya
saturasi oksigen (PaO2) atau meningkatnya PaC02 menunjukkan perlunya
penanganan yang lebih. adekuat atau perubahan terapi.
- Membantu
mengoreksi hipoksemia yang terjadi sekunder hipoventilasi dan penurunan
permukaan alveolar paru.
|
3
|
a. Review
patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus
pada jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko
infeksi melalui batuk, bersin, meludah, tertawa., ciuman atau menyanyi.
b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena
infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan
c. Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di
tempat penampungan yang tertutup jika batuk
d. Gunakan masker setiap melakukan tindakan.
e. Monitor temperatur
f. Identifikasi individu yang berisiko tinggi untuk
terinfeksi ulang Tuberkulosis paru, seperti: alkoholisme, malnutrisi, operasi
bypass intestinal, menggunakan obat penekan imun/ kortikosteroid, adanya
diabetes melitus, kanker.
g. Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang
dijalani.
h. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin.
i. Pemberian terapi Pyrazinamid (PZA)/Aldinamide,
para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.
j. Monitor sputum BTA
|
- Membantu
pasien agar mau mengerti dan menerima terapi yang diberikan untuk mencegah
komplikasi
- Orang-orang
yang beresiko perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran infeksi.
- Kebiasaan
ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.
: -Mengurangi
risilio penyebaran infeksi.
-Febris
merupakan indikasi terjadinya infeksi.
-Pengetahuan
tentang faktor-faktor ini membantu pasien untuk mengubah gaya hidup dan
menghindari/mengurangi keadaan yang lebih buruk.
-Periode
menular dapat terjadi hanya 2-3 hari setelah permulaan kemoterapi jika sudah
terjadi kavitas, resiko, penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan.
-INH adalah
obat pilihan bagi penyakit Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan
obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan
dan Etambutol untuk 2 bulan pertama.
-Obat-obat
sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.
- Untuk
mengawasi keefektifan obat dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi.
|
4
|
a. Catat status
nutrisi paasien: turgor kulit, timbang berat badan, integritas mukosa mulut,
kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.
b.
Kaji pola diet pasien yang disukai/tidak
disukai.
c. Monitor intake dan output secara periodik.
d. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan
jika ada hubungannya dengan medikasi.
c.Awasi frekuensi, volume, konsistensi Buang Air Besar
(BAB).
e. Anjurkan bedres
f. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan
pernapasan.
g. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan
tinggi protein dan karbohidrat.
h. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet.
i. Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2
jam sebelum/setelah makan
j. Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum,
dan albumin).
k. Berikan antipiretik tepat.
|
- berguna dalam mendefinisikan derajat
masalah dan intervensi yang tepat.
-Mengukur
keefektifan nutrisi dan cairan.
-Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi
peningkatan metabolik.
-Mengurangi
rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang
muntah.
-Memaksimalkan
intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster.
-Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan
nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet.
-Membantu
menurunkan insiden mual dan muntah karena efek samping obat.
-Nilai rendah
menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi.
-demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsurnsi
kalori.
|
5
|
a. Kaji kemampuan belajar pasien misalnya: tingkat
kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan belajar, tingkat
pengetahuan, media, orang dipercaya.
b. Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada
dokter misalnya: hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas,
kehilangan pendengaran, vertigo.
c. Tekankan pentingnya asupan diet Tinggi Kalori Tinggi
Protein (TKTP) dan intake cairan yang adekuat.
d. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan
misalnya: jadwal minum obat.
e. jelaskan penatalaksanaan obat: dosis, frekuensi,
tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Ulangi penyuluhan tentang
interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain.
f. jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering,
konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah
g. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika
sedang terapi INH.
h. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani
terapi etambutol.
i. Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan
kecemasan. Jangan menyangkal.
j.
Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya
misalnya: bekerja di pengecoran logam, pertambangan, pengecatan.
k.
Anjurkan untuk berhenti merokok.
|
-Kemampuan
belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan
tergantung pada kemarnpuan pasien.
-Indikasi
perkembangan penyakit atau efek samping obat yang membutuhkan evaluasi
secepatnya.
-Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi
dan mencegah putus obat.
-Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu
menjalani terapi.
-Kebiasaan
minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis
-Efek samping
etambutol: menurunkan visus, kurang mampu melihat warna hijau.
-Menurunkan
kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk
mekanisme koping.
-Debu silikon beresiko keracunan
silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus.
- Merokok
tidak menstimulasi kambuhnya Tuberkulosis; tapi gangguan pernapasan/
bronchitis.
|
2.4
Evaluasi
a. Keefektifan bersihan jalan napas.
b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu.
c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi.
e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.
a. Keefektifan bersihan jalan napas.
b. Fungsi pernapasan adekuat untuk mernenuhi kebutuhan individu.
c. Perilaku/pola hidup berubah untuk mencegah penyebaran infeksi.
d. Kebutuhan nutrisi adekuat, berat badan meningkat dan tidak terjadi malnutrisi.
e. Pemahaman tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan dan perubahan perilaku untuk memperbaiki kesehatan.
Daftar Pustaka
Arif Mansjoer, (2000). Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 2 , FK UI:
Jakarta.
Brunner
dan Sudarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah ( Vol-2),
EGC: Jakarta
Doenges,
M.E, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan
; Jakarta : EGC
Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, (2006). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis:
Jakarta

Thanks so much, very helpful
BalasHapus